-->

Food

Kenali Low Vision Sejak Dini, Dokter Spesialis Mata RSUD Jombang Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini Gangguan Penglihatan pada Anak

Selasa, Juli 14, 2026, 11:20:00 AM WIB Last Updated 2026-07-14T04:20:44Z

JOMBANG,KOMPASGRUPS.COM-Gangguan penglihatan pada anak merupakan masalah kesehatan yang tidak boleh dianggap sepele karena dapat memengaruhi proses tumbuh kembang, kemampuan belajar,hingga kualitas hidup anak di masa depan.Melalui edukasi kesehatan yang disampaikan Humas RSUD Jombang pada Senin (13/7/2026),Dokter Spesialis Mata RSUD Jombang,dr. Fatin Hamamah, Sp.M, mengajak para orang tua untuk mengenali tanda-tanda low vision sejak dini agar anak memperoleh penanganan yang tepat.


Menurut dr. Fatin Hamamah,low vision merupakan kondisi penurunan fungsi penglihatan yang tidak dapat diperbaiki secara optimal meskipun telah menggunakan kacamata,lensa kontak,menjalani pengobatan,maupun operasi.Meski demikian,penderita masih memiliki sisa fungsi penglihatan yang dapat dimaksimalkan melalui rehabilitasi visual dan penggunaan alat bantu sehingga tetap mampu menjalani aktivitas sehari-hari.


Berdasarkan klasifikasi World Health Organization (WHO),seseorang dikategorikan mengalami low vision apabila ketajaman penglihatannya kurang dari 6/18 sampai dengan light perception atau memiliki lapang pandang yang sangat sempit meskipun telah mendapatkan koreksi maksimal. Kondisi ini berbeda dengan kebutaan total atau No Light Perception (NLP),yaitu ketika mata sudah tidak mampu mendeteksi cahaya sama sekali.


Perkembangan penglihatan anak dimulai sejak lahir.Bayi normal memiliki refleks terhadap cahaya,sehingga berkedip saat terkena cahaya kemudian pada usia 2–3 bulan mulai mampu memfokuskan pandangan dan mengikuti benda bergerak.Saat usia 6 bulan kemampuan melihat kedalaman mulai berkembang,sedangkan pada usia 3–5 tahun fungsi penglihatan telah mendekati orang dewasa.Karena itu,setiap keterlambatan perkembangan penglihatan perlu segera diperiksakan ke dokter spesialis mata.


Dr. Fatin menjelaskan, angka kejadian low vision pada anak diperkirakan sekitar satu dari seribu anak.Di negara berkembang,penyebab low vision di negara berkembang yang sering ditemukan antara lain katarak kongenital,glaukoma kongenital,Retinopathy of Prematurity (ROP),

Yaitu kelainan perkembangan pembuluh darah pada bayi prematur kelainan retina dan saraf mata,gangguan perkembangan sistem penglihatan,hingga kelainan pada otak seperti meningitis yang mengganggu proses pengolahan informasi visual.


Agar seseorang dapat melihat dengan baik, cahaya harus melewati kornea,pupil,lensa,vitreus atau badan kaca,kemudian diterima retina sebelum diteruskan melalui saraf optik menuju otak.Gangguan pada salah satu bagian tersebut,baik pada mata maupun otak,dapat menyebabkan terjadinya low vision.bila tidak dapat di tangani dengan obat maupun operasi.


Orang tua juga diimbau mewaspadai berbagai gejala sejak dini,seperti bayi yang tidak mampu mengikuti benda bergerak,tidak merespons cahaya,bola mata bergerak sendiri (nistagmus),sering menggosok mata,sensitif terhadap cahaya,kesulitan mengenali wajah atau benda,sering melihat dari jarak sangat dekat,hingga prestasi belajar yang menurun akibat kesulitan melihat tulisan.


Untuk menegakkan diagnosis,dokter akan melakukan pemeriksaan ketajaman penglihatan,lapang pandang,sensitivitas kontras,kemampuan membedakan warna,serta menilai kemampuan penglihatan fungsional.Hasil pemeriksaan tersebut menjadi dasar dalam menentukan bila ada low vision serta jenis rehabilitasi visual dan alat bantu yang paling sesuai bagi setiap pasien.


Apabila tidak ditangani dengan baik,low vision dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan motorik,ambliopia atau mata malas,strabismus atau mata juling,hingga gangguan psikologis seperti rendah diri,kesulitan bersosialisasi,bahkan depresi.Selain itu,gangguan penglihatan juga berdampak pada prestasi akademik dan dapat memengaruhi peluang pendidikan maupun kemandirian ekonomi ketika anak dewasa.


Keberhasilan penanganan low vision sangat dipengaruhi oleh derajat keparahan low vision deteksi dini,pemeriksaan rutin ke dokter spesialis mata,rehabilitasi visual,penggunaan alat bantu optik maupun nonoptik,serta dukungan keluarga dan lingkungan belajar.Kemajuan teknologi seperti fitur pembesaran huruf,pengaturan kontras,dan pembaca layar pada perangkat digital juga sangat membantu anak tetap belajar secara optimal.


Dr. Fatin Hamamah menegaskan bahwa low vision bukan berarti akhir dari harapan anak untuk meraih masa depan yang baik.Dengan diagnosis yang tepat,rehabilitasi visual, penggunaan alat bantu sesuai kebutuhan,serta dukungan keluarga,anak-anak dengan low vision tetap dapat tumbuh mandiri,berprestasi,dan mengembangkan potensi terbaiknya.Karena itu, orang tua diminta tidak menunda berkonsultasi ke dokter spesialis mata apabila menemukan tanda-tanda gangguan penglihatan pada buah hati mereka.(Zafin)

Komentar

Tampilkan

  • Kenali Low Vision Sejak Dini, Dokter Spesialis Mata RSUD Jombang Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini Gangguan Penglihatan pada Anak
  • 0

Terkini

Music