Jombang,Kompasgrups.com-Dalam upaya meningkatkan literasi media dan kompetensi jurnalistik di kalangan pelajar, Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Wartawan Online (DPD IWO) Indonesia Kabupaten Jombang menggelar kegiatan Workshop Jurnalistik Go To School (GTS) di SMKN 2 Jombang, Sabtu (7/2/2026).
Kegiatan yang diikuti oleh beberapa sekolah tingkat SMAN dan SMKN se-Kabupaten Jombang ini dihadiri siswa perwakilan sekolahan masing masing . Workshop bertujuan membekali pelajar dengan pengetahuan dasar jurnalistik, etika media, serta kemampuan menyaring informasi di tengah maraknya berita viral di media sosial.
Acara dibuka secara resmi dengan sambutan dari Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Kabupaten Jombang yang diwakili oleh Pengawas Utama, Drs. H. Suyono, M.M. Dalam sambutannya, Suyono menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran Kepala Cabang Dinas Pendidikan karena adanya agenda lain yang bersamaan.
“Saya mewakili pimpinan menyampaikan terima kasih kepada IWO Indonesia Jombang yang telah melakukan terobosan dalam rangka meningkatkan kapabilitas dan kompetensi siswa di bidang jurnalistik. Kami berharap anak-anak dapat belajar komunikasi dengan baik,” ujar Suyono.
Ia menekankan bahwa ilmu yang diperoleh dalam kegiatan tersebut akan sangat bermanfaat bagi masa depan peserta didik.
“Ilmu hari ini akan ditransfer untuk 10 hingga 20 tahun ke depan. Kehidupan di masa mendatang sangat tergantung pada kemampuan komunikasi seseorang. Komunikasi akan melahirkan kerja sama, dan dari kerja sama akan muncul keberhasilan. Komunikasi adalah hal pertama yang wajib dimiliki,” tegasnya.
Pembekalan Jurnalistik Dasar
Materi pertama disampaikan oleh Agus Pamuji, Ketua DPD IWO Indonesia Kabupaten Jombang. Dalam sesi bertajuk Pengantar Jurnalistik untuk Pelajar, Agus memberikan pemahaman dasar tentang dunia jurnalistik dan peran media dalam kehidupan masyarakat, khususnya di era digital.
Peserta dibekali materi mengenai pengertian jurnalistik, perbedaan fakta dan opini, serta perbedaan antara berita dan gosip. Selain itu, mereka juga dikenalkan pada fungsi utama jurnalistik sebagai sarana edukasi, kontrol sosial, dan penyampai informasi publik.
“Tidak semua informasi yang viral di media sosial layak diberitakan. Pelajar harus mampu berpikir kritis sebelum menyebarkan informasi,” ujar Agus.Dalam sesi teknik penulisan berita, peserta diajarkan unsur 5W+1H, struktur berita yang meliputi judul, teras, dan isi, serta prinsip utama jurnalistik seperti akurasi, verifikasi, dan keberimbangan.
Agus juga memaparkan sejumlah kesalahan umum dalam penulisan berita oleh pelajar, seperti penggunaan judul provokatif tanpa isi yang kuat serta mengutip informasi dari media sosial tanpa konfirmasi.
Selain teknik penulisan, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai etika jurnalistik. Materi tersebut mencakup sikap tidak menghakimi, tidak menyebarkan kebencian, serta pentingnya melindungi narasumber.
Dalam etika wawancara, pelajar diingatkan untuk tidak memaksa narasumber dan tidak memelintir pernyataan. Sementara dalam etika foto dan video, peserta diminta untuk tidak mempermalukan pihak tertentu serta tidak mengeksploitasi korban dalam pemberitaan.
Kegiatan semakin interaktif dengan adanya sesi diskusi yang mengangkat pertanyaan kritis, “Apakah semua kebenaran harus ditulis dalam sebuah berita?”. Diskusi ini bertujuan membentuk kepekaan moral dan rasa tanggung jawab pelajar sebagai calon jurnalis.
Bahas Media Sosial dan Berita Viral
Pemateri kedua, Zainul Arifin (Zafin) dari media online Kompasgroups, membawakan materi bertema Jurnalistik, Media Sosial, dan Berita Viral. Dalam paparannya, ia menjelaskan bagaimana perkembangan media sosial telah mengubah pola penyebaran informasi di masyarakat.
“Di era digital, setiap orang bisa menjadi penyampai informasi. Namun, tidak semua informasi yang viral dapat dibenarkan secara jurnalistik,” jelas Zafin.
Ia menegaskan perbedaan antara jurnalis dan buzzer. Menurutnya, jurnalis bekerja berdasarkan fakta, verifikasi, dan kode etik, sementara buzzer lebih mengedepankan kepentingan tertentu tanpa memperhatikan akurasi.
Zafin juga mengingatkan bahaya konten yang tidak memenuhi kaidah jurnalistik, seperti judul clickbait, informasi tidak berimbang, dan penggiringan opini yang dapat menyesatkan publik. Selain itu, praktik “trial by media” dinilai berpotensi merugikan individu sebelum adanya keputusan hukum.
“Konten yang mengandung ujaran kebencian, fitnah, atau melanggar privasi juga berisiko menimbulkan persoalan hukum bagi pembuat dan penyebarnya,” tegasnya.
Dalam penulisan berita, lanjut Zafin, jurnalis wajib memperhatikan struktur yang benar, penggunaan bahasa netral, serta penyajian fakta yang terverifikasi. Proses penulisan juga harus melalui peninjauan etika, agama, dan hukum.
Melalui studi kasus, peserta diajak memahami pentingnya kehati-hatian dalam menyampaikan informasi, terutama yang berkaitan dengan isu sensitif seperti pendidikan, kesehatan, dan agama.
Bentuk Generasi Cerdas dan Bertanggung Jawab
Ketua DPD IWO Indonesia Jombang, Agus Pamuji, menyampaikan bahwa kegiatan Workshop Jurnalistik GTS merupakan bagian dari komitmen organisasi dalam mendukung peningkatan literasi media di kalangan pelajar.
“Kami berharap melalui kegiatan ini, pelajar Jombang mampu menjadi generasi yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab dalam mengelola informasi, baik sebagai pembaca maupun sebagai penulis berita,” ujarnya.
Sementara itu, pihak SMKN 2 Jombang selaku tuan rumah mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Mereka menilai workshop ini sangat bermanfaat dalam membekali siswa menghadapi tantangan informasi di era digital.
Dengan terselenggaranya Workshop Jurnalistik Go To School ini, diharapkan para pelajar tidak hanya mampu menulis berita dengan baik, tetapi juga memiliki integritas, kepekaan sosial, serta kesadaran etika dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.(Zafin)


