BANYUWANGI,KOMPASGRUPS.COM – Gelaran Banyuwangi BMX Supercross 2026 tak hanya menjadi ajang olahraga bergengsi tingkat internasional, tetapi juga membawa dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat lokal. Bahkan jauh sebelum kompetisi resmi digelar pada 27–28 Juni 2026 di Sirkuit Internasional BMX Muncar, geliat ekonomi sudah mulai dirasakan warga sekitar.
Kompetisi yang masuk dalam kalender resmi federasi balap sepeda dunia, yaitu Union Cycliste Internationale (UCI), tersebut diikuti sebanyak 343 pembalap dari empat negara. Selain atlet dari berbagai provinsi di Indonesia, peserta juga datang dari Singapura, Thailand, dan Filipina.
Kedatangan para pembalap yang turut didampingi ofisial tim serta anggota keluarga membuat ribuan orang berdatangan ke Banyuwangi. Situasi ini menciptakan perputaran ekonomi yang cukup besar, terutama di kawasan sekitar sirkuit yang dikenal sebagai salah satu lintasan BMX berstandar Olimpiade pertama di Asia Tenggara.
Sejumlah warga memanfaatkan momentum tersebut dengan membuka berbagai usaha pendukung, mulai dari kuliner, penyewaan kendaraan, penjualan perlengkapan olahraga, hingga penyediaan penginapan. Bahkan, banyak rumah warga yang disewa oleh atlet dan keluarganya sejak satu bulan sebelum perlombaan berlangsung.
Salah satu warga yang merasakan manfaat langsung adalah Erwin. Ia mengaku telah dua tahun terakhir menyewakan rumahnya kepada atlet BMX yang datang ke Banyuwangi.
“Awalnya diberitahu saudara kalau ada yang mencari penginapan. Akhirnya saya tawarkan, dan mereka mau. Sampai sekarang keterusan karena pendapatannya lumayan,” ujarnya.
Fenomena serupa juga terjadi di lingkungan sekitar rumahnya. Banyak warga yang kini menjadikan rumah mereka sebagai homestay dadakan setiap kali kejuaraan BMX digelar.
Sementara itu, Tumini, warga yang rumahnya berada tepat di samping sirkuit, mengembangkan berbagai usaha sekaligus, mulai dari warung makan, penyewaan kendaraan hingga toilet umum.
Menurutnya, keberadaan sirkuit internasional tersebut telah membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat.
“Kehadiran sirkuit BMX ini sangat menguntungkan. Karena sering ada lomba, kami ikut kecipratan rezeki dengan berjualan makanan, menyewakan kendaraan, dan toilet umum,” katanya.
Manfaat ekonomi juga dirasakan Dewi, seorang ibu rumah tangga yang setiap ada kejuaraan BMX beralih menjadi pedagang makanan dan minuman di sekitar arena perlombaan.
Ia mengungkapkan bahwa aktivitas jualan bahkan sudah bisa dilakukan sejak sepekan sebelum perlombaan dimulai karena banyak atlet yang datang lebih awal untuk menjalani sesi latihan.
“Senang sekali. Setiap ada lomba kami bisa berjualan dan menambah penghasilan keluarga,” tuturnya.
Sehari-hari Dewi mengelola toko kelontong di rumahnya. Namun ketika ajang BMX digelar, ia memanfaatkan tingginya kunjungan atlet dan penonton untuk menambah pemasukan keluarga dengan membuka lapak makanan dan minuman.
Selain menjadi magnet olahraga internasional, Banyuwangi BMX Supercross 2026 juga menunjukkan bagaimana sebuah event olahraga mampu menjadi penggerak ekonomi kerakyatan. Mulai dari sektor penginapan, transportasi, kuliner, hingga usaha mikro masyarakat ikut menikmati dampak positif dari kedatangan ratusan atlet dan ribuan pengunjung.
Pada kejuaraan tahun ini, panitia akan mempertandingkan berbagai kategori, di antaranya Challenge Boys & Girls, Challenge Men, Master, serta kelas bergengsi Championship Elite, Championship Junior, dan Championship U-23.
Ajang tersebut diharapkan semakin memperkuat posisi Banyuwangi sebagai destinasi sport tourism nasional sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat setempat. (Atmaja)
