-->

Food

Bayuwangi Ethno Carnival 2026: When Local Heritage Captivates the World

Minggu, Juli 19, 2026, 12:05:00 PM WIB Last Updated 2026-07-19T05:05:03Z

 

BANYUWANGI, Indonesia, KOMPASGRUPS.COM – Di bawah langit senja Pulau Jawa, ribuan pasang mata terpaku pada parade spektakuler yang bergerak perlahan menyusuri pusat Kota Banyuwangi. Warna-warni kostum megah, dentuman musik tradisional, serta narasi sejarah yang dikemas dalam seni pertunjukan modern menjadikan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 lebih dari sekadar festival budaya. Ajang ini telah berkembang menjadi simbol bagaimana identitas lokal mampu berbicara di panggung dunia.minggu (19/7/2026) 


Memasuki penyelenggaraan ke-14, BEC kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu festival budaya paling ikonik di Asia Tenggara. Mengusung tema “Perang Bayu”, karnaval tahun ini menghidupkan kembali kisah heroik perjuangan masyarakat Blambangan melawan kolonialisme Belanda pada abad ke-18 melalui bahasa universal yang dapat dipahami siapa saja: seni dan kreativitas.


Ratusan peserta tampil mengenakan kostum artistik dengan detail yang memadukan unsur sejarah, filosofi lokal, dan sentuhan desain kontemporer. Setiap langkah di sepanjang rute dua kilometer dari Taman Blambangan hingga Jalan Ahmad Yani menjadi representasi perjalanan sejarah Banyuwangi yang dikemas dalam standar pertunjukan kelas dunia.


Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyebut BEC sebagai contoh nyata bagaimana kekayaan budaya daerah mampu menjadi kekuatan global.


“Semangat yang kita lihat hari ini adalah from local to global. Budaya, inovasi, dan kreativitas masyarakat Banyuwangi telah membuktikan bahwa warisan lokal dapat menjadi inspirasi dunia,” ujarnya saat membuka acara.


Pernyataan tersebut bukan sekadar slogan. Tahun ini, BEC disaksikan langsung oleh delegasi negara-negara anggota ASEAN, East Asia Summit (EAS), dan Pacific Islands Forum (PIF), menjadikan festival tersebut sebagai ruang diplomasi budaya yang mempertemukan beragam bangsa dalam satu panggung kebudayaan.


Di tengah arus globalisasi yang kerap mengikis identitas lokal, Banyuwangi justru mengambil jalur berbeda. Daerah di ujung timur Pulau Jawa itu menjadikan tradisi sebagai fondasi pembangunan dan kreativitas sebagai kendaraan untuk menjangkau audiens internasional.


Bagi banyak pengamat budaya, keberhasilan BEC merupakan contoh bagaimana daerah dapat mengubah warisan sejarah menjadi aset ekonomi kreatif, sekaligus memperkuat citra Indonesia di mata dunia.


Ribuan wisatawan domestik dan mancanegara memenuhi area pertunjukan sejak siang hari. Hotel-hotel, pusat kuliner, dan berbagai destinasi wisata di Banyuwangi turut merasakan dampak positif dari meningkatnya kunjungan selama penyelenggaraan festival.


Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menegaskan bahwa keberhasilan BEC merupakan hasil kolaborasi panjang antara pemerintah, komunitas seni, pelaku industri kreatif, dan generasi muda.


“BEC bukan hanya milik pemerintah daerah. Ini adalah hasil kerja bersama masyarakat Banyuwangi yang terus menjaga budaya sekaligus menghadirkannya dalam bentuk yang relevan dengan perkembangan zaman,” kata Ipuk.


Menurutnya, semangat kolaborasi menjadi faktor utama yang membuat BEC mampu bertahan dan terus berkembang selama lebih dari satu dekade.


Di tingkat nasional, kehadiran Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata Zita Anjani, perwakilan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, anggota DPR RI, pimpinan BUMN, serta sejumlah tokoh nasional menunjukkan besarnya perhatian terhadap peran budaya sebagai instrumen pembangunan dan promosi Indonesia.


Lebih dari sekadar parade kostum, Banyuwangi Ethno Carnival telah menjelma menjadi etalase Indonesia di hadapan dunia. Festival ini memperlihatkan bahwa budaya lokal tidak harus bertahan dengan berdiam diri di masa lalu. Sebaliknya, budaya dapat bergerak maju, berinovasi, dan menjadi kekuatan yang menghubungkan masyarakat lokal dengan komunitas global.


Dari sebuah kota di ujung timur Pulau Jawa, pesan itu kembali bergema ke berbagai penjuru dunia: bahwa identitas lokal yang dirawat dengan baik tidak akan tenggelam oleh globalisasi, melainkan mampu menjadi bagian penting dari percakapan global itu sendiri.(HERMAN )

Komentar

Tampilkan

  • Bayuwangi Ethno Carnival 2026: When Local Heritage Captivates the World
  • 0

Terkini

Music