-->

Food

Supervisi Akademik Bukan Sekadar Menilai, Guru Didorong Lebih Profesional dan Berkembang

Senin, September 21, 2026, 8:48:00 AM WIB Last Updated 2026-09-21T01:48:56Z

 



JOMBANG,KOMPASGRUPS.COM–Supervisi akademik memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas proses belajar mengajar di sekolah. Kegiatan tersebut tidak semata-mata dilakukan untuk menilai kinerja guru, tetapi juga menjadi bagian dari pembinaan profesional agar guru mampu mengembangkan pembelajaran yang efektif, adaptif, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.


Konsep supervisi akademik tersebut menjadi bagian dari materi “Supervisi Akademik: Kegiatan Mengelola Proses Belajar Mengajar dengan Profesional” yang disusun oleh Ibu Pujiarti, S.S., M.Pd., mahasiswa Program Doktoral Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (UNESA) bersama Dr. H. Lamijan Hadi Susarno, M.Pd., Dosen Program Studi Teknologi Pendidikan UNESA.


Materi tersebut menyoroti bahwa pelaksanaan supervisi akademik masih menghadapi sejumlah tantangan. Supervisi yang dilakukan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan pembelajaran hingga evaluasi perlu diarahkan agar tidak berhenti pada kegiatan penilaian, tetapi mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas pembelajaran.


Perubahan kurikulum dan tuntutan pembelajaran abad ke-21 juga menuntut guru untuk mampu menerapkan pembelajaran yang lebih mendalam atau deep learning. Guru diharapkan tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga mendorong peserta didik berpikir kritis, analitis, kreatif, serta mampu menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata.


Salah satu persoalan yang masih ditemui adalah kesiapan guru dalam menyiapkan perangkat pembelajaran. Mulai dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau modul ajar, media pembelajaran hingga instrumen penilaian perlu disusun secara tepat dan disesuaikan dengan kurikulum serta karakteristik peserta didik.


Aspek mental guru juga menjadi perhatian dalam proses supervisi. Sikap dan kecemasan guru terhadap supervisi perlu diperhatikan karena supervisi yang dipersepsikan sebagai kegiatan untuk mencari kesalahan dapat membuat guru kurang nyaman dalam menerima masukan dan melakukan perbaikan.


Karena itu, kepala sekolah diharapkan menjalankan peran sebagai pemimpin pembelajaran atau instructional leader. Kepala sekolah tidak hanya melakukan evaluasi, tetapi juga memberikan pembinaan, pendampingan, serta membangun budaya kolaborasi di lingkungan sekolah.


Dalam pelaksanaannya, supervisi akademik dapat dilakukan melalui tiga tahapan utama, yakni pra-observasi, observasi kelas, dan pasca-observasi. Tahap pra-observasi digunakan untuk mengetahui kesiapan guru, baik dari sisi mental maupun administrasi dan perangkat pembelajaran yang akan digunakan.


Tahap berikutnya adalah observasi terhadap proses pembelajaran. Supervisor melihat secara langsung bagaimana guru melaksanakan pembelajaran, termasuk kemampuan menerapkan metode, mengelola kelas, menggunakan media serta menyesuaikan pembelajaran dengan kondisi peserta didik.


Setelah observasi dilakukan, guru dan supervisor masuk pada tahap refleksi serta pemberian umpan balik. Pendekatan yang digunakan perlu disesuaikan dengan tingkat kesiapan, pengalaman, kapasitas, dan kebutuhan masing-masing guru sehingga pembinaan dapat berlangsung secara tepat.


Materi tersebut juga memperkenalkan pendekatan Academic Coaching sebagai paradigma supervisi yang lebih kolaboratif. Dalam pendekatan ini, supervisor dan guru ditempatkan dalam hubungan kemitraan dengan fokus pada pertumbuhan serta pengembangan kompetensi guru, bukan sekadar hubungan antara atasan dan bawahan.


Persiapan supervisi juga mencakup penentuan target perilaku yang ingin ditingkatkan, kesiapan perangkat ajar, kondisi peserta didik, serta berbagai kebutuhan pembelajaran sesuai karakteristik mata pelajaran. Guru diberikan ruang untuk menentukan aspek yang ingin dikembangkan dalam proses peningkatan kinerja.


Selanjutnya, instrumen supervisi dapat meliputi pertemuan persiapan, observasi kelas atau bengkel, serta pasca-observasi dan tindak lanjut. Hasil observasi kemudian digunakan sebagai bahan refleksi diri, pemberian umpan balik yang positif dan konstruktif, serta penyusunan rencana tindak lanjut untuk meningkatkan kompetensi guru.


Melalui pendekatan tersebut, supervisi akademik diharapkan tidak lagi dipandang hanya sebagai kegiatan evaluasi. Supervisi dapat menjadi ruang bagi guru untuk melakukan refleksi, mendapatkan pendampingan, bertukar pengalaman, dan memperbaiki proses pembelajaran secara berkelanjutan.


Pada akhirnya, penguatan supervisi akademik berbasis coaching dan kolaborasi diharapkan mampu mendukung terciptanya proses belajar mengajar yang semakin profesional, adaptif, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik. Kolaborasi antara kepala sekolah, supervisor, guru, guru senior, serta forum MGMP menjadi bagian penting dalam membangun budaya peningkatan mutu pembelajaran di sekolah.(Zafin)

Komentar

Tampilkan

  • Supervisi Akademik Bukan Sekadar Menilai, Guru Didorong Lebih Profesional dan Berkembang
  • 0

Terkini

Music