BANYUWANGI, KOMPASGRUPS.COM – Ribuan warga memadati Jalan Sumberwadung, Dusun Tugung, Desa Sempu, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, Sabtu (31/10/2026), untuk menyaksikan Karnaval Budaya Nusantara Desa Sempu. Kegiatan yang menampilkan beragam seni, adat, dan atraksi budaya tersebut dilepas langsung oleh Kepala Desa Sempu, Nanang Santoso.
Karnaval dimulai pukul 16.00 WIB dengan diikuti sebanyak 33 grup peserta. Masing-masing peserta menampilkan kreativitas dan beragam atraksi yang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Seluruh peserta menempuh rute pawai sejauh hampir 5 kilometer.
Suasana semakin semarak dengan penampilan seni dan budaya, pawai adat, serta puluhan truk sound horeg yang turut memeriahkan kegiatan tersebut.
Sejumlah tamu undangan tampak menghadiri acara, di antaranya unsur Forum Pimpinan Kecamatan (Forpimka) Sempu, Kepala UPT CKPP Genteng, tokoh ulama, tokoh masyarakat, Ketua BPD beserta anggota, Babinsa, Bhabinkamtibmas, unsur TNI-Polri, panitia HUT RI, awak media, serta ratusan kreator konten sound horeg.
Karnaval Budaya Nusantara ini tidak sekadar menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya melestarikan seni dan tradisi lokal sekaligus mendorong perputaran ekonomi masyarakat desa.
Dalam sambutannya, Kepala Desa Sempu, Nanang Santoso, menyampaikan permohonan maaf apabila pelaksanaan kegiatan menimbulkan ketidaknyamanan bagi sebagian masyarakat. Ia juga mengapresiasi seluruh pihak yang telah berkontribusi menyukseskan acara.
“Saya atas nama pemerintah desa dan mewakili panitia HUT RI, Desa Sempu memohon maaf kepada masyarakat apabila pelaksanaan kegiatan ini sedikit mengganggu. Kami juga berterima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat,” ujar Nanang.
Ia mengaku bangga melihat antusiasme masyarakat serta beragam atraksi seni dan budaya yang ditampilkan para peserta. Menurutnya, kegiatan semacam ini memiliki nilai edukasi bagi generasi muda sekaligus menjadi sarana menjaga keberlangsungan tradisi daerah.
“Acara seperti ini yang menjunjung nilai seni dan budaya sangat bagus. Harapan kami, ke depannya seluruh desa di Banyuwangi bisa melaksanakan kegiatan serupa,” katanya.
Di balik kemeriahan kegiatan, pengamanan karnaval melibatkan tim gabungan lintas wilayah. Personel yang diterjunkan terdiri dari Polsek Sempu, Polsek Singojuruh, Polsek Songgon, Koramil 0825/19 Sempu, serta anggota Perlindungan Masyarakat (Linmas).
Petugas gabungan tampak melakukan pengamanan dan pengaturan di sepanjang jalur karnaval yang mencapai hampir 5 kilometer. Sinergi unsur TNI-Polri bersama Linmas tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kepadatan masyarakat sekaligus memastikan perjalanan 33 grup peserta berlangsung tertib dan lancar.
Tidak hanya menghadirkan hiburan, kegiatan tersebut juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Berdasarkan pantauan di lokasi, sejumlah pedagang asongan, pemilik warung kopi, penjual makanan, hingga pedagang es tampak ramai melayani pembeli.
Bahkan, sejumlah pedagang mengaku dagangannya habis terjual di tengah tingginya kunjungan masyarakat yang menyaksikan karnaval.
Nanang menyebut geliat aktivitas perdagangan tersebut menjadi salah satu dampak positif dari penyelenggaraan kegiatan budaya di tingkat desa.
“Warung-warung laku, pedagang kaki lima dapat rezeki. Ini bukti karnaval budaya bukan hanya hiburan, tetapi juga menggerakkan ekonomi. Desa Sempu istimewa. Merdeka!” ujar Nanang yang disambut sorak warga.
Pelepasan peserta dilakukan satu per satu dari garis start di Jalan Sumberwadung. Pengibaran bendera start dilakukan langsung oleh Nanang Santoso. Seluruh peserta mengikuti jalur pawai dengan pengawalan dan pengaturan yang telah disepakati bersama panitia serta aparat keamanan.
Hingga sore menjelang malam, antusiasme masyarakat tetap terlihat. Warga berjubel di sepanjang ruas jalan untuk menyaksikan setiap penampilan peserta.
Karnaval Budaya Nusantara Desa Sempu menjadi gambaran bagaimana sebuah perayaan masyarakat dapat menghadirkan ruang kebersamaan, menjaga warisan budaya, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi pelaku UMKM lokal.(Atmaja)
