-->

Food

Iklan

Harlah NU ke-103: JIK-NAH Resmi Lahir di Jombang, Siap Jadikan Kota Santri Pusat Gravitasi Dunia

Sabtu, Januari 31, 2026, 6:21:00 PM WIB Last Updated 2026-01-31T11:21:06Z

Jombang,Kompasgrups.com-Bertepatan dengan peringatan Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama (NU) ke-103, organisasi Jombang Ibu Kota Nahdliyin (JIK-NAH) resmi dideklarasikan di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada Sabtu (31/1/2026). Deklarasi ini menjadi momentum penting bagi warga Nahdliyin dalam memperkuat peran Jombang sebagai pusat peradaban santri.


Acara deklarasi berlangsung khidmat di pelataran makam keluarga almarhum KH. Choirul Anam (Cak Anam), Dusun Kemiri Galih, Desa Sawiji, Kecamatan Jogoroto. Kegiatan diawali dengan Khotmil Qur’an dan prosesi tabur bunga sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh senior NU tersebut.


Hadir dalam kegiatan tersebut keluarga besar Nahdliyin, tokoh agama, para kiai, santri, serta masyarakat sekitar yang turut menyaksikan lahirnya wadah perjuangan baru bagi warga NU di Kota Santri.

JIK-NAH dipimpin oleh KH. Muhtazuddin, adik kandung almarhum Cak Anam. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Jombang memiliki posisi strategis dalam sejarah dan perkembangan NU.


Menurutnya, Jombang bukan sekadar wilayah administratif, melainkan “rahim peradaban santri” yang telah melahirkan tokoh-tokoh besar, seperti Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Abdul Wahab Chasbullah.


“Mendeklarasikan JIK-NAH adalah langkah untuk menjaga jantung NU agar tetap berdenyut kuat, transparan, dan tak tergoyahkan demi kejayaan Indonesia,” ujar KH. Muhtazuddin.

Ia menambahkan, JIK-NAH hadir sebagai wadah konsolidasi dan penguatan peran Nahdliyin dalam menghadapi dinamika zaman yang semakin kompleks.


Dalam deklarasinya, JIK-NAH mengusung visi besar, yakni “Menjadikan Jombang sebagai Pusat Gravitasi Spiritual, Intelektual, Kultural, dan Integritas Nahdlatul Ulama yang Mendunia.”


Untuk mewujudkan visi tersebut, JIK-NAH menetapkan lima misi utama, yaitu:

Khitthah Budaya, mengukuhkan Jombang sebagai kota suci rujukan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).


Penguatan Literasi, menghidupkan kembali tradisi kajian kitab kuning di pesantren dan masyarakat.Benteng Langit, menggerakkan Hafidz dan Hafidzah sebagai pilar kekuatan spiritual.Kemandirian Umat, membangun ekonomi berbasis pesantren dan komunitas Nahdliyin.Transparansi Organisasi, membangun komunikasi yang akuntabel guna meningkatkan kepercayaan warga dan soliditas organisasi.


Selain itu, JIK-NAH juga mengedepankan prinsip Manhajul Harakah yang meliputi Tabarrukan (mencari berkah para masyayikh), Harokah (pelopor kemajuan), dan Himayah (perlindungan tradisi).


Salah satu poin utama yang ditekankan dalam deklarasi tersebut adalah pentingnya Wihdah atau persatuan. JIK-NAH berkomitmen menjaga warisan NU agar tetap utuh, solid, dan tidak mudah terpecah oleh kepentingan luar.


“Persatuan menjadi kunci agar NU tetap kuat dan mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keulamaan dan kebangsaan,” tegas KH. Muhtazuddin.


Melalui JIK-NAH, diharapkan seluruh elemen Nahdliyin di Jombang dapat bergerak dalam satu barisan untuk memperkuat dakwah, pendidikan, sosial, dan ekonomi umat.


Acara deklarasi JIK-NAH ditutup dengan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur dan harapan agar organisasi ini dapat membawa manfaat bagi umat dan bangsa.

Dengan lahirnya JIK-NAH, warga Nahdliyin Jombang optimistis dapat terus membumikan nilai-nilai perjuangan para masyayikh serta menjadikan Kota Santri sebagai pusat gravitasi peradaban NU di tingkat nasional maupun internasional.(Zafin)

Komentar

Tampilkan

  • Harlah NU ke-103: JIK-NAH Resmi Lahir di Jombang, Siap Jadikan Kota Santri Pusat Gravitasi Dunia
  • 0

Terkini

Music