BANYUWANGI, KOMPASGRUPS.COM - 15 Februari 2026 - Dugaan pemotongan dan pungutan liar dana Program Indonesia Pintar (PIP) yang melibatkan SMAN 1 Bangorejo tidak hanya menimbulkan kekhawatiran publik, tetapi juga menusuk ke titik lemah manajemen, komunikasi, dan transparansi pihak sekolah. Berbagai tokoh masyarakat menyampaikan kritik tajam terkait kasus yang mengguncang kepercayaan ini.
Ketua Info Warga Banyuwangi, Abi Arbain, menilai sikap pihak sekolah terhadap awak media sangat tidak profesional. Meskipun surat klarifikasi telah dikeluarkan pada 13 Februari 2026 untuk membantah tuduhan, kepala sekolah dinilai salah kaprah dengan mengabaikan pesan WhatsApp permintaan konfirmasi.
"Sebagai pengelola institusi pendidikan publik yang menangani dana negara, seharusnya mereka menjawab setiap pertanyaan dengan terbuka dan responsif," tegas Abi. Ia menambahkan, ketidakhadiran petugas saat media datang ke sekolah dan kurangnya sistem komunikasi terstruktur menjadi pemicu berita tidak terverifikasi serta kesan ada yang disembunyikan.
Kritikan juga datang dari Ketua DPC LSM KPK Nusantara, Sugianto. Menurutnya, hanya mengacu pada peraturan hukum tidak cukup untuk meyakinkan publik. Sekolah seharusnya melakukan sosialisasi rutin tentang mekanisme penyaluran dana, termasuk bukti bahwa dana masuk langsung ke rekening siswa.
"Kurangnya sosialisasi menunjukkan kurangnya perhatian terhadap pemahaman publik tentang program yang sangat penting bagi siswa kurang mampu," ujarnya.
Tak kalah pedas, aktivis senior LSM Penjara Indonesia, Faeko Sulistio, menyatakan bahwa komitmen transparansi dalam surat klarifikasi terkesan hanya retorika. Sampai saat ini, tidak ada bukti publikasi berkala tentang daftar penerima, jumlah dana, dan bukti pencairan.
"Sekolah seharusnya tidak hanya menyalahkan media, tetapi juga merefleksikan kekurangan tata kelola. Sebagai lembaga publik, tanggung jawab mereka tidak hanya pendidikan, tetapi juga akuntabilitas penuh atas setiap dana yang mengalir," jelas Faeko.
Sebelumnya, awak media berusaha mendatangi sekolah namun tidak ditemui, kemudian melakukan konfirmasi via WhatsApp yang diabaikan. Dua hari setelah pemberitaan tayang, sekolah mengirim surat klarifikasi dengan menuduh pemberitaan tanpa konfirmasi.
(Foto File Klarifikasi Pihak Sekolah SMA Negeri 1 Bangorejo kabupaten Banyuwangi)
Kasus ini menjadi bukti bahwa SMAN 1 Bangorejo perlu melakukan perbaikan menyeluruh agar kepercayaan masyarakat dapat kembali terbangun.

