Banyuwangi,KompasGrups.Com – Minggu (22/3/2026), polemik ketersediaan tabung gas LPG 3 kg masih menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat Banyuwangi. Beredarnya video pernyataan Wakil Bupati Banyuwangi yang menyebut stok elpiji 3 kg dalam kondisi aman justru memicu reaksi keras dari warga.
Pasalnya, kondisi di lapangan dinilai berbanding terbalik dengan apa yang disampaikan. Sejumlah warga menyebut pernyataan tersebut tidak sesuai fakta, bahkan dianggap hanya “isapan jempol” semata.
“Di lapangan kosong, susah sekali cari gas. Kalau pun ada, harganya sudah tidak wajar,” keluh IDR salah satu warga Kecamatan Glenmore.
Upaya pemerintah melalui program grebeg pasar yang dilakukan di tingkat kecamatan dinilai belum mampu menjadi solusi konkret. Distribusi LPG 3 kg masih tersendat, bahkan hingga memasuki H+2 Hari Raya Idul Fitri.
Kondisi ini memicu dugaan adanya ketidakwajaran dalam penyaluran, yang oleh masyarakat disebut-sebut seperti “permainan pasar”. Kelangkaan dan lonjakan harga dirasakan langsung oleh warga, khususnya di Kecamatan Glenmore dan Genteng.
“Setiap hari kami cari, tapi tetap sulit. Ini seperti ada yang mengatur. Bahkan sekarang harga isi ulang sudah tembus Rp25.000 hingga Rp50.000 per tabung,” ungkap FK warga lainnya di Kecamatan Genteng.
Sebagai perbandingan, harga eceran tertinggi (HET) LPG 3 kg bersubsidi yang ditetapkan pemerintah di wilayah Jawa Timur umumnya berada di kisaran Rp16.000–Rp18.000 per tabung di tingkat pangkalan. Artinya, harga yang beredar di masyarakat saat ini bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat dari harga resmi.
Masyarakat pun berharap Polresta Banyuwangi segera turun tangan dengan melakukan inspeksi mendadak (sidak) serta penyelidikan guna mengungkap penyebab kelangkaan LPG 3 kg bersubsidi yang hingga kini belum teratasi.
Warga juga mendesak agar ada tindakan tegas terhadap pihak-pihak yang diduga bermain dalam distribusi, sehingga kebutuhan dasar masyarakat tidak terus menjadi polemik berkepanjangan. (Tim)
