Banyuwangi,Kompasgrups.Com– Pertandingan penentu perebutan satu tiket menuju babak semifinal dalam ajang Piala Ketua PSSI Kabupaten Banyuwangi 2026 Grup A babak 8 besar berlangsung sengit dan penuh tensi. Duel panas mempertemukan PMJ FC Krikilan melawan Persegam Gambiran di Stadion Maron Genteng yang dipadati ribuan suporter dari kedua kubu.Rabu (20/5/2026)
Sejak peluit kick off dibunyikan, kedua tim langsung tampil menyerang. PMJ FC Krikilan yang mengusung permainan cepat terlihat tampil lebih agresif pada menit-menit awal. Tekanan demi tekanan terus dilancarkan melalui skema umpan pendek dan tusukan dari sisi sayap yang beberapa kali membuat lini pertahanan Persegam Gambiran bekerja ekstra keras.
Dominasi awal PMJ FC Krikilan membuat pertandingan berjalan dalam tempo tinggi. Bahkan beberapa peluang emas sempat tercipta, namun masih mampu digagalkan oleh barisan belakang dan penjaga gawang Persegam Gambiran yang tampil disiplin menjaga area pertahanan.
Tak ingin terus ditekan, Persegam Gambiran mulai keluar dari tekanan dan mencoba membangun serangan balik cepat. Permainan keras namun tetap sportif tersaji sepanjang laga. Duel perebutan bola di lini tengah berlangsung ketat hingga beberapa kali memancing sorakan penonton yang larut dalam atmosfer pertandingan.
Ribuan suporter yang memadati Stadion Maron Genteng membuat suasana pertandingan semakin bergemuruh. Chant dukungan, tabuhan drum, hingga yel-yel dari masing-masing kubu terus terdengar sepanjang pertandingan berlangsung. Antusiasme masyarakat yang hadir menunjukkan tingginya gairah sepak bola lokal Banyuwangi dalam turnamen bergengsi tersebut.
Besarnya animo penonton juga membuat aparat keamanan dari jajaran Polsek Genteng bersama personel pengamanan lainnya melakukan pengawalan ketat di area stadion. Petugas terlihat bersiaga di sejumlah titik untuk memastikan jalannya pertandingan tetap aman dan kondusif hingga laga berakhir.
Big Bos PMJ FC, Andre Tri Waluyo, turut hadir memberikan dukungan langsung kepada skuadnya dari tribun stadion. Ia mengaku bangga dengan semangat juang para pemain yang tampil penuh determinasi dalam laga penting tersebut.
“Anak-anak bermain luar biasa dan menunjukkan mental bertanding yang kuat. Kami datang bukan hanya untuk bermain, tetapi membawa semangat untuk memberikan kebanggaan kepada masyarakat dan suporter PMJ FC,” ujar Andre Tri Waluyo
Menurutnya, atmosfer pertandingan di Stadion Maron Genteng menjadi bukti bahwa sepak bola Banyuwangi memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Ia juga mengapresiasi antusiasme ribuan suporter yang hadir memberikan dukungan secara sportif sepanjang pertandingan.
“Kami berharap turnamen seperti ini terus digelar karena mampu menjadi ruang lahirnya pemain-pemain muda berbakat di Banyuwangi. Dukungan masyarakat sangat luar biasa dan itu menjadi energi tambahan bagi tim,” tambahnya.
Namun pertandingan sempat diwarnai kericuhan antar suporter yang mencoba merangsek masuk ke dalam arena pertandingan. Situasi memanas ketika massa penonton diduga memaksa menerobos barikade pengamanan hingga pagar sisi timur stadion dilaporkan jebol akibat desakan suporter yang tidak mampu dibendung.
Kondisi tersebut membuat suasana Stadion Maron Genteng mendadak tegang. Sejumlah aparat keamanan bersama panitia pelaksana terlihat berupaya keras mengendalikan massa dan mensterilkan area lapangan guna mencegah kericuhan meluas. Pengamanan pun langsung diperketat di beberapa titik rawan di sekitar tribun stadion.
Insiden itu memicu kekecewaan dari pihak PMJ FC. Big Bos PMJ FC, Andre Tri Waluyo, menilai panitia pelaksana gagal memberikan rasa aman dan kenyamanan dalam pertandingan yang menjadi sorotan ribuan penonton tersebut. Menurutnya, laga sebesar babak 8 besar seharusnya dipersiapkan dengan sistem pengamanan yang jauh lebih matang dan profesional.
“Kami sangat menyayangkan kejadian ini. Pertandingan besar seperti ini seharusnya memiliki pengamanan maksimal. Jangan sampai suporter dengan mudah masuk ke area pertandingan karena itu sangat membahayakan pemain, official, maupun penonton lainnya,” tegas Andre Tri Waluyo.
Ia juga meminta adanya evaluasi total terhadap sistem pengamanan dan kinerja panitia pelaksana turnamen. Menurutnya, keselamatan seluruh pihak harus menjadi prioritas utama dalam setiap pertandingan sepak bola.
“Kalau memang tidak mampu menjaga jalannya pertandingan tetap aman dan kondusif, lebih baik turnamen ini dibubarkan saja dan tidak perlu dilanjutkan di bawah naungan PSSI. Jangan sampai sepak bola Banyuwangi tercoreng karena lemahnya pengelolaan pertandingan,” tambahnya dengan nada kecewa.
Pernyataan tersebut langsung menjadi perhatian para suporter dan penonton yang hadir di Stadion Maron Genteng. Banyak pihak berharap insiden kericuhan tersebut menjadi bahan evaluasi serius agar pertandingan berikutnya dapat berlangsung lebih tertib, aman, dan tetap menjunjung tinggi sportivitas sepak bola lokal Banyuwangi.
Laga ini menjadi salah satu pertandingan paling menarik di babak 8 besar. Selain mempertaruhkan gengsi antar tim, pertandingan tersebut juga menjadi penentu nasib kedua klub untuk melangkah ke babak semifinal Piala Ketua PSSI Kabupaten Banyuwangi 2026.
Ketatnya pertandingan menunjukkan kualitas persaingan sepak bola lokal Banyuwangi yang semakin berkembang. Turnamen Piala Ketua PSSI Banyuwangi 2026 sendiri menjadi ajang pembinaan sekaligus ruang lahirnya talenta-talenta muda potensial dari berbagai kecamatan di Banyuwangi.
Laga berlangsung sengit hingga peluit panjang dibunyikan dengan skor kacamata 0-0. Kedua tim tampil ngotot demi mengamankan tiket menuju babak semifinal. Ketegangan memuncak saat pertandingan harus ditentukan lewat drama adu penalti yang membuat ribuan suporter di Stadion Maron Genteng menahan napas.(tim)

