BANYUWANGI, KOMPASGRUPS.COM– Pagi yang biasanya tenang di Dusun Temurejo, Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, berubah menjadi momen penuh makna. Lantunan doa dan tahlil yang menggema dari lokasi pembangunan menjadi penanda dimulainya sebuah harapan baru bagi masyarakat.pembangunan Jembatan Garuda.
Jumat (3/7/2026) pukul 08.00 WIB,
program Karya Bakti TNI Kodim 0825/Banyuwangi resmi dimulai. Bukan sekadar pembangunan infrastruktur, kegiatan ini menjadi simbol kuat kemanunggalan TNI dan rakyat dalam membangun desa serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Komandan Koramil 0825/04 Genteng, Kapten Inf Agus Riyadi, memimpin langsung kegiatan tersebut bersama Pelda Arief selaku Bati TNI Staf Kodim 0825/Banyuwangi. Mereka didukung personel dari Koramil 0825/06 Gambiran, Koramil 0825/08 Srono, dan Koramil 0825/19 Sempu yang hadir dengan satu tujuan, mewujudkan jembatan yang selama ini menjadi harapan warga.
Prosesi selamatan berlangsung khidmat. Puluhan warga tampak memadati lokasi, mengikuti doa bersama dengan penuh harap. Bagi masyarakat setempat, Jembatan Garuda bukan hanya sarana penghubung, melainkan akses penting yang akan memperlancar aktivitas ekonomi, pendidikan, dan mobilitas warga sehari-hari.
Kepala Desa Kembiritan, Sukamto, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada jajaran TNI yang telah memberikan perhatian nyata terhadap kebutuhan masyarakat.
“Ini bukan hanya pembangunan jembatan, tetapi pembangunan harapan bagi warga kami. Kehadiran TNI memberikan semangat baru bagi masyarakat untuk terus bergerak maju. Kami berharap jembatan ini nantinya menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Kapten Inf Agus Riyadi menegaskan bahwa karya bakti merupakan bagian dari komitmen TNI untuk selalu hadir membantu masyarakat.
“Kami memahami bahwa sebuah jembatan bukan hanya menghubungkan dua sisi wilayah, tetapi juga menghubungkan harapan, aktivitas ekonomi, pendidikan, dan kehidupan sosial masyarakat. Karena itu, melalui karya bakti ini kami ingin menunjukkan bahwa TNI selalu hadir untuk membantu mengatasi kesulitan rakyat di sekelilingnya,” kata Kapten Agus.
Menurutnya, pembangunan Jembatan Garuda merupakan implementasi nyata tugas pembinaan teritorial TNI yang tidak hanya berorientasi pada aspek pertahanan, tetapi juga mendukung percepatan pembangunan daerah.
“Kami berharap pembangunan ini dapat selesai sesuai rencana dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat. Yang paling membanggakan adalah semangat gotong royong warga yang luar biasa. Inilah kekuatan bangsa Indonesia yang harus terus dijaga,” tambahnya.
Kapten Agus juga memberikan apresiasi kepada seluruh elemen yang terlibat, mulai dari pemerintah desa, tokoh masyarakat, hingga warga yang secara sukarela bergotong royong dalam proses pembangunan.
“Ketika TNI, pemerintah desa, dan masyarakat bersatu dalam satu tujuan, tidak ada pekerjaan yang terlalu berat. Jembatan Garuda ini nantinya akan menjadi bukti bahwa kebersamaan mampu melahirkan pembangunan yang bermanfaat bagi banyak orang,” tegasnya.
Usai prosesi doa dan sambutan, suasana langsung berubah menjadi lebih dinamis. Para prajurit bersama warga tanpa ragu turun ke lokasi pembangunan. Cangkul, sekop, dan peralatan kerja lainnya mulai bergerak. Tidak ada sekat antara aparat dan masyarakat. Semua menyatu dalam semangat gotong royong yang menjadi ciri khas kehidupan pedesaan.
Keringat yang menetes di bawah terik matahari pagi seolah menjadi investasi sosial yang kelak akan berbuah manfaat besar. Jembatan Garuda diharapkan menjadi jalur strategis yang memperlancar distribusi hasil pertanian dan perkebunan warga menuju pusat-pusat perdagangan, sekaligus membuka akses yang lebih mudah bagi aktivitas masyarakat.
Lebih dari sekadar konstruksi beton dan besi, Jembatan Garuda menjadi simbol kebersamaan, kepedulian, dan pengabdian. Di atas pondasi yang mulai dibangun itu, tersimpan harapan ribuan warga akan masa depan yang lebih baik.
Hari itu, pembangunan memang baru dimulai. Namun bagi masyarakat Temurejo dan Desa Kembiritan, harapan telah lebih dahulu berdiri kokoh bersama pondasi pertama yang ditanam oleh tangan-tangan yang bekerja dengan tulus demi kemajuan bersama.(Atmaja).
