BANYUWANGI, KOMPASGRUPS.COM — Aktivitas di kawasan Pasar Induk Banyuwangi kembali menjadi perhatian. Di tengah agenda penyerahan kunci serta keberadaan posko pengaduan bagi pedagang, interaksi antara pejabat Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dengan awak media di lokasi justru menjadi sorotan.
Peristiwa tersebut terjadi ketika awak media melakukan peliputan langsung di kawasan pasar. Selain memantau aktivitas penyerahan kunci, awak media juga berupaya memperoleh keterangan dari pihak pemerintah terkait kondisi dan penataan pasar.
Di lokasi, awak media mendapati Suratno, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Banyuwangi.
Saat itu, Suratno terlihat berada di kawasan pasar dan menggunakan telepon seluler. Awak media kemudian berupaya mendekati yang bersangkutan untuk meminta keterangan terkait agenda di lokasi.
Namun, ketika hendak dimintai wawancara, Suratno justru beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju salah satu lorong di area pasar.
Momen tersebut berlangsung singkat. Tidak ada keterangan yang disampaikan kepada awak media mengenai apakah wawancara dapat dilakukan saat itu atau harus menunggu waktu lain.
Situasi tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan di kalangan awak media. Terlebih, Suratno merupakan pejabat yang berada dalam lingkup Pemkab Banyuwangi dan hadir di lokasi yang tengah menjadi perhatian masyarakat.
Permintaan wawancara tersebut pada dasarnya merupakan bagian dari proses konfirmasi jurnalistik. Keterangan dari pejabat yang memiliki kewenangan dibutuhkan agar informasi mengenai aktivitas pemerintah di kawasan Pasar Induk Banyuwangi dapat disajikan secara berimbang.
Persoalannya bukan semata mengenai bersedia atau tidaknya seorang pejabat memberikan wawancara. Yang menjadi perhatian adalah tidak adanya penjelasan secara langsung ketika awak media berupaya meminta keterangan di lapangan.
Apabila memang Suratno sedang memiliki agenda lain, tidak memungkinkan memberikan keterangan, atau membutuhkan waktu untuk menyiapkan data, hal tersebut tentu dapat disampaikan kepada awak media.
Ketua Info Warga Banyuwangi (IWB), Abi Arbain, menyayangkan situasi tersebut.
Menurut Abi, pejabat publik semestinya membangun komunikasi yang terbuka dengan insan pers, terutama ketika berada di ruang publik dan dalam agenda yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat.
“Kami sangat menyayangkan kalau seorang pejabat ketika hendak dimintai keterangan justru beranjak dan masuk ke lorong. Kalau memang sedang ada kepentingan lain atau belum bisa diwawancarai, cukup disampaikan dengan baik. Jangan sampai tidak adanya komunikasi justru menimbulkan tanda tanya,” ujar Abi.
Abi menegaskan, permintaan wawancara dari awak media merupakan bagian dari upaya mendapatkan konfirmasi, bukan berarti pejabat yang bersangkutan harus menjawab seluruh pertanyaan secara spontan.
“Wartawan datang untuk menjalankan tugas jurnalistik, termasuk meminta konfirmasi. Kalau belum bisa memberikan keterangan saat itu, bisa disampaikan akan diberikan penjelasan pada waktu lain. Yang penting ada komunikasi yang jelas dan terbuka,” tegasnya.
Menurutnya, keberadaan posko pengaduan di kawasan Pasar Induk Banyuwangi juga membuat keterbukaan informasi menjadi semakin penting. Pemerintah telah menyediakan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pengaduan, sehingga informasi mengenai persoalan di lapangan dan tindak lanjut pemerintah juga menjadi bagian yang patut diketahui publik.
Dalam konteks tersebut, komunikasi pejabat pemerintah dengan media menjadi salah satu bagian penting dalam penyampaian informasi kepada masyarakat.
Media membutuhkan keterangan resmi dari pihak yang memiliki kewenangan. Sebaliknya, pemerintah juga memiliki ruang untuk menjelaskan kebijakan, kondisi lapangan, maupun langkah yang sedang dilakukan.
Dengan demikian, peristiwa di Pasar Induk Banyuwangi tersebut menjadi catatan tersendiri dalam peliputan mengenai aktivitas pemerintah di kawasan pasar.
Hingga berita ini disusun, belum diperoleh penjelasan langsung dari Suratno mengenai alasan dirinya beranjak menuju lorong ketika awak media hendak meminta keterangan.(Atmaja)
