-->

Food

Kurikulum Pembelajaran Mendalam di SMK Hadapi Tantangan Besar, Sistem Penilaian Perlu Beradaptasi

Jumat, September 25, 2026, 8:22:00 PM WIB Last Updated 2026-09-25T13:22:04Z

 



SURABAYA,KOMPASGRUPS.COM–Penerapan kurikulum berbasis pembelajaran mendalam (deep learning) di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) membawa perubahan dalam proses pembelajaran sekaligus menuntut penyesuaian pada sistem penilaian peserta didik. Penilaian tidak lagi cukup berorientasi pada hasil akhir, tetapi perlu mampu menggambarkan proses berpikir, keterampilan, kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, serta kesiapan siswa menghadapi dunia kerja.


Gagasan tersebut dibahas dalam tulisan berjudul “Tantangan Penerapan Kurikulum Berbasis Pembelajaran Mendalam dalam Sistem Penilaian di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)” yang ditulis oleh Itha Pujarti, S.S., M.Pd., mahasiswa Program Doktor Teknologi Pendidikan UNESA, dan Dr. H. Lamijan Hadi Susarno, M.Pd., dosen Program Studi Teknologi Pendidikan UNESA. Kajian tersebut menyoroti pentingnya perubahan sistem penilaian agar sejalan dengan karakter pembelajaran mendalam.


Dalam kajian itu dijelaskan, penerapan kurikulum berbasis pembelajaran mendalam merupakan langkah strategis untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna dan relevan dengan kebutuhan zaman. Pendekatan tersebut mendorong peserta didik tidak hanya menghafal materi, tetapi memahami konsep, menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata, serta mampu menerapkannya dalam berbagai situasi.


Bagi SMK, tantangan tersebut menjadi semakin penting karena pendidikan vokasi memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan dunia kerja. Siswa tidak hanya dituntut menguasai teori, tetapi juga harus mempunyai keterampilan praktis, kemampuan beradaptasi, kreativitas, komunikasi, kolaborasi dan kemampuan menyelesaikan persoalan yang muncul di lingkungan kerja.


Salah satu persoalan yang disoroti adalah sistem penilaian yang belum sepenuhnya selaras dengan esensi pembelajaran mendalam. Penilaian yang masih berfokus pada tes tertulis dan hafalan dinilai belum cukup untuk menggambarkan kemampuan peserta didik secara utuh. Karena itu, diperlukan instrumen penilaian yang dapat mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS).


Dalam pembelajaran berbasis kompetensi di SMK, penilaian idealnya juga memperhatikan kemampuan siswa dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan. Hal tersebut berkaitan dengan tuntutan dunia industri yang membutuhkan tenaga kerja dengan kompetensi sesuai standar operasional prosedur (SOP), kemampuan bekerja secara disiplin, mampu berkolaborasi, serta dapat menyelesaikan persoalan secara efektif.


Kajian tersebut juga mengungkapkan bahwa salah satu tantangan guru adalah merancang asesmen yang mampu mengukur kemampuan siswa secara menyeluruh. Asesmen tidak hanya dilakukan melalui ujian tertulis, tetapi dapat dikembangkan melalui proyek, portofolio, simulasi, praktik kerja, studi kasus dan bentuk penilaian autentik lainnya.


Strategi penyelarasan sistem penilaian juga perlu dilakukan melalui peningkatan kompetensi pendidik. Guru perlu memahami berbagai pendekatan asesmen yang sesuai dengan karakter pembelajaran mendalam. Keterlibatan praktisi industri juga dapat menjadi bagian penting agar penilaian yang digunakan di sekolah memiliki keterkaitan dengan kebutuhan nyata di dunia kerja.


Salah satu pendekatan yang ditawarkan adalah penggunaan Model Asesmen Berbasis Masalah Otentik (Authentic Problem-Solving). Model tersebut mengarahkan siswa untuk menghadapi situasi nyata yang terjadi dalam kehidupan maupun dunia kerja. Melalui pendekatan itu, siswa didorong untuk menganalisis persoalan, mencari informasi, menentukan solusi dan mempertanggungjawabkan keputusan yang diambil.


Selain itu, penggunaan teknologi dapat mendukung proses penilaian di SMK. Dalam kajian tersebut disebutkan beberapa teknologi dan perangkat yang dapat dimanfaatkan, antara lain aplikasi simulasi, perangkat lunak bidang keahlian, serta teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Pemanfaatan teknologi tersebut dapat membantu guru menghadirkan bentuk asesmen yang lebih interaktif dan sesuai dengan perkembangan dunia kerja.


Namun, pemanfaatan teknologi dalam asesmen juga membutuhkan perhatian terhadap validitas dan reliabilitas hasil penilaian. Guru tetap perlu memastikan bahwa hasil yang diperoleh benar-benar menggambarkan kompetensi siswa. Penggunaan AI, misalnya, perlu disertai pemahaman etika agar teknologi tidak menggantikan proses berpikir peserta didik.


Untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi, kajian tersebut juga menyebut pemanfaatan ChatGPT dan Quiz AI sebagai salah satu alternatif. ChatGPT dapat digunakan untuk membantu membuat soal berbasis analisis, sintesis maupun evaluasi, sedangkan Quiz AI dapat membantu menghasilkan kuis interaktif dengan variasi soal. Sementara itu, perangkat analisis seperti Anates dapat dimanfaatkan untuk membantu menguji validitas dan reliabilitas butir soal HOTS.


Pada akhirnya, penerapan pembelajaran mendalam di SMK membutuhkan perubahan cara pandang terhadap penilaian. Asesmen seharusnya tidak hanya menjadi alat untuk menentukan nilai siswa, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembelajaran yang membantu peserta didik memahami kemampuan dirinya, memperbaiki kekurangan, mengembangkan keterampilan dan mempersiapkan diri menghadapi kebutuhan dunia kerja. 


Sejalan dengan arah pengembangan Program Studi Teknologi Pendidikan UNESA yang menekankan kemampuan merancang, mengembangkan, menerapkan dan mengevaluasi lingkungan belajar berbasis teknologi, penguatan sistem asesmen menjadi bagian penting dalam menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan perkembangan zaman.(Zafin)

Komentar

Tampilkan

  • Kurikulum Pembelajaran Mendalam di SMK Hadapi Tantangan Besar, Sistem Penilaian Perlu Beradaptasi
  • 0

Terkini

Music