-->

Food

KAI Resmikan Patung Raden Soetedjo di Stasiun Purwokerto

Rabu, Oktober 21, 2026, 5:44:00 PM WIB Last Updated 2026-10-21T10:44:02Z

 


PURWOKERTO,KOMPASGRUPS.COM – Lagu Di Tepinya Sungai Serayu sudah lama menjadi bagian dari pengalaman perjalanan penumpang kereta api yang tiba di Stasiun Purwokerto. Kini, sosok pencipta lagu tersebut, Raden Soetedjo, diabadikan melalui sebuah patung yang diresmikan PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 5 Purwokerto, Rabu (21/10/2026).


Patung tersebut berada di area boarding Stasiun Purwokerto. Kehadirannya menjadi bentuk penghormatan kepada maestro musik asal Banyumas sekaligus apresiasi kepada keluarga dan ahli waris Raden Soetedjo yang tidak menarik royalti atas penggunaan lagu Di Tepinya Sungai Serayu sebagai bel kedatangan kereta api di stasiun-stasiun wilayah Daop 5 Purwokerto.


Peresmian patung itu merupakan bagian dari Program Bantuan Bina Lingkungan 2026. KAI Daop 5 Purwokerto bekerja sama dengan Yayasan Lestari Banjoemas Raya (YLBR) untuk menghadirkan ruang yang dapat mengenalkan sejarah dan kebudayaan Banyumas kepada masyarakat luas.


Vice President KAI Daop 5 Purwokerto, Rangga Putra Maulana, mengatakan lagu karya Raden Soetedjo tersebut telah melampaui fungsinya sebagai penanda kedatangan kereta. Lagu itu menjadi bagian dari identitas perjalanan masyarakat yang datang ke Purwokerto.


“Bagi kami, lagu ‘Di Tepinya Sungai Serayu’ bukan sekadar penanda kedatangan kereta api di Stasiun Purwokerto. Lagu ini telah menjadi bagian dari identitas dan pengalaman perjalanan masyarakat,” ujar Rangga.


Ia mengapresiasi keputusan keluarga dan ahli waris yang tidak menarik royalti atas penggunaan lagu tersebut. Menurutnya, sikap itu menunjukkan kontribusi keluarga dalam menjaga warisan budaya Banyumas agar tetap dekat dengan kehidupan masyarakat.


“Patung Raden Soetedjo ini menjadi bentuk apresiasi kami atas kebaikan hati dan kontribusi keluarga dalam menjaga warisan budaya Banyumas,” katanya.


Kenalkan Maestro Banyumas kepada Generasi Muda


KAI berharap patung Raden Soetedjo tidak hanya menjadi ornamen di lingkungan stasiun. Keberadaannya diharapkan dapat menjadi sarana edukasi bagi generasi muda dan penumpang dari berbagai daerah untuk mengenal tokoh musik yang memiliki kontribusi terhadap perkembangan seni Indonesia.


Rangga mengatakan stasiun merupakan ruang pertemuan masyarakat dari beragam latar belakang. Karena itu, ruang publik tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan kekayaan sejarah dan budaya daerah kepada masyarakat yang melintas.


“Kami berharap Patung Raden Soetedjo dapat menjadi tempat untuk mengenal lebih dekat tokoh seni Banyumas dan mengingat bahwa karya budaya memiliki nilai yang melampaui zamannya,” ujarnya.


Pengerjaan patung melibatkan sejumlah pekerja seni. Septian Puji Andriyanto, pematung asal Magelang, menggarap elemen patung. Sementara itu, Jatmiko Wicaksono, dosen STIKOM Yogyakarta, menangani penataan desain artistik.


Area tersebut juga dilengkapi biografi singkat Raden Soetedjo dan replika biola Stradivarius Paganini yang dibuat oleh perajin alat musik asal Banyumas, Sugeng Riyanto.


Kehadiran unsur biografi dan replika alat musik itu diharapkan membuat pengunjung tidak hanya melihat sosok Raden Soetedjo, tetapi juga mengenal perjalanan hidup dan karya-karyanya.


Perwakilan keluarga dan ahli waris, Artika Mantaram, mengaku terharu atas penghargaan yang diberikan KAI kepada leluhurnya.


“Kami sekeluarga merasa sangat terharu dan berterima kasih atas apresiasi yang diberikan KAI kepada Raden Soetedjo. Bagi keluarga, karya beliau merupakan bagian dari warisan budaya yang patut terus dikenang,” kata Artika.


Ia berharap keberadaan patung tersebut dapat mendorong masyarakat mengenal lebih dekat sosok Raden Soetedjo sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap musik dan kebudayaan Banyumas.


Menempuh Pendidikan Musik hingga Roma


Raden Soetedjo lahir di Banyumas pada 15 Oktober 1909. Ia merupakan putra Poerwadibroto, tetapi kemudian diasuh oleh pamannya, Raden Soemandar, yang bekerja di pabrik gula Klampok, wilayah Distrik Purwareja Banyumas yang kini masuk Kabupaten Banjarnegara.


Sejak muda, Soetedjo bercita-cita mengabdikan hidupnya pada musik. Ia kemudian menempuh pendidikan musik di Konservatori Musik Roma, Italia. Pengalaman tersebut turut membentuk kemampuannya sebagai komponis.


Namanya dikenal luas melalui lagu Di Tepinya Sungai Serayu, yang hingga kini masih diperdengarkan sebagai bel kedatangan kereta api di stasiun-stasiun wilayah Daop 5 Purwokerto.


Selain lagu tersebut, Soetedjo menghasilkan sejumlah karya lain, antara lain Tidurlah Intan, Melati Pesanku, Selamat Berjuang, Keroncong Senja, Hamba Menyanyi, dan Juwita Malam.


Perjalanan kariernya juga bersentuhan dengan perkembangan musik nasional. Pada 1946, ia tercatat menjabat sebagai Direktur Musik RRI Purwokerto. Dua tahun kemudian, ia memelopori pendirian Orkes Studio Djakarta (OSD), yang terlibat dalam perekaman lagu kebangsaan Indonesia Raya dan menjadi cikal bakal Jakarta Philharmonic Orchestra.


Pada 1950, Soetedjo bergabung dengan Korps Musik Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Ia kemudian memperoleh pangkat kehormatan Letnan Muda Udara I AURI. Pada 1968, ia juga menerima penghargaan bidang seni dari Gubernur Jakarta Ali Sadikin.


Raden Soetedjo wafat di Jakarta pada 12 April 1960, dalam usia 50 tahun, dan dimakamkan di TPU Karet, Jakarta.


Namanya tetap dikenang di tanah kelahirannya. Pemerintah Kabupaten Banyumas mengabadikan namanya sebagai Taman Budaya Soetedja.


Peresmian patung di Stasiun Purwokerto menambah ruang bagi masyarakat untuk mengenal sosoknya. 


Melalui kolaborasi KAI Daop 5 Purwokerto, YLBR, keluarga, dan pekerja seni, warisan Raden Soetedjo diharapkan terus hidup, bukan hanya melalui lagu yang mengiringi kedatangan kereta, tetapi juga melalui pengenalan sejarah dan kebudayaan kepada generasi berikutnya.[Mardianto].

Komentar

Tampilkan

  • KAI Resmikan Patung Raden Soetedjo di Stasiun Purwokerto
  • 0

Terkini

Music