JOMBANG,KOMPASGRUPS.COM -Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jombang menggelar Konferensi Cabang (Konfercab) XIII di Gedung Bung Tomo, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang, Jumat (16/10/2026), pukul 14.00 WIB. Mengusung tema “Samenwerking Menembus Batas: Gotong Royong sebagai Jiwa Gerakan GMNI Jombang di Era Disrupsi”, forum ini menjadi momentum konsolidasi, evaluasi organisasi, pertukaran gagasan, dan penentuan arah kepemimpinan untuk memperkuat gerakan mahasiswa yang progresif, kritis, dan berpihak kepada rakyat.
Konfercab XIII digelar untuk memperkuat soliditas kader sekaligus merumuskan langkah strategis organisasi dalam menghadapi tantangan zaman. Melalui forum ini, kader diharapkan mampu mengevaluasi perjalanan organisasi, menyusun program kerja yang relevan, serta menentukan pemimpin yang memiliki integritas dan komitmen terhadap perjuangan GMNI Jombang.
Ketua Pelaksana Konfercab XIII, Hibri Rasikh Hargiputra, dalam sambutannya menegaskan bahwa forum tersebut telah berjalan secara demokratis dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai organisasi. Ia berharap keputusan yang dihasilkan mampu melahirkan arah kepemimpinan yang membawa GMNI Jombang menjadi organisasi yang semakin progresif, kritis, dan konsisten memperjuangkan kepentingan rakyat.
Hibri juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pihak apabila masih terdapat kekurangan selama pelaksanaan kegiatan. Ia mengapresiasi kerja keras seluruh panitia yang telah mencurahkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menyukseskan konferensi. Menurutnya, keberhasilan penyelenggaraan kegiatan tidak terlepas dari semangat kerja sama dan kontribusi seluruh pihak yang terlibat.
Ketua DPC GMNI Jombang, Daffa Rai Hananto, menyoroti tiga poin utama dalam sambutannya, yakni gotong royong sebagai fondasi organisasi, makna strategis Konfercab, serta pentingnya komitmen dalam kepemimpinan. Ia menyebut nilai gotong royong telah menjadi semangat GMNI Jombang sejak awal berdiri dan menjadi kekuatan untuk menjaga keberlangsungan organisasi dalam menghadapi berbagai tantangan selama bertahun-tahun.
Menurut Daffa, Konfercab sebagai forum tertinggi di tingkat DPC tidak boleh dipersempit hanya sebagai ajang pemilihan ketua. Lebih dari itu, forum tersebut harus menjadi ruang untuk mengevaluasi kinerja organisasi, membahas pola kerja kepengurusan berikutnya, serta mempertemukan ide dan gagasan demi menentukan arah perjuangan yang lebih terukur dan berdampak bagi masyarakat.
Ia juga memberikan pesan tegas kepada seluruh kandidat yang maju dalam kontestasi kepemimpinan. Daffa mengingatkan bahwa jabatan Ketua DPC bukanlah posisi yang sekadar membanggakan atau memberikan kenyamanan, melainkan tanggung jawab besar yang menuntut pengorbanan, kesungguhan, dan komitmen terhadap organisasi. Ia menegaskan, kader yang belum siap memikul tanggung jawab tersebut perlu mempertimbangkan kembali keputusannya untuk maju.
Menutup sambutannya, Daffa mengutip pemikiran tentang tiga tipe manusia: mereka yang membicarakan orang lain, mereka yang membicarakan peristiwa, dan mereka yang membicarakan ide serta gagasan. Ia meyakini kader GMNI Jombang merupakan calon-calon pemikir besar yang seharusnya mengedepankan pertukaran gagasan untuk mendorong kemajuan bangsa dan negara.
Sambutan Bupati Jombang, Warsubi, S.H., M.Si., yang diwakili Budi Winarno, S.T., M.Si., dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol), menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam menjaga kesadaran kebangsaan dan memperjuangkan kepentingan rakyat. GMNI sebagai organisasi yang berlandaskan pemikiran Bung Karno diharapkan mampu melahirkan kader yang berani menyampaikan kritik, tetapi tetap mengedepankan data, fakta, pemahaman mendalam, serta sikap santun dan bertanggung jawab.
Dalam sambutan tersebut, tema gotong royong dinilai relevan dengan tantangan era disrupsi yang ditandai perkembangan teknologi dan perubahan pola interaksi masyarakat. Gotong royong bukan sekadar slogan, melainkan semangat untuk menyatukan perbedaan, mempertemukan kepentingan, dan menggerakkan potensi kader. Mahasiswa juga diingatkan agar memanfaatkan teknologi secara bijak, memeriksa kebenaran informasi, serta mempertahankan tradisi berpikir kritis dalam menyikapi berbagai persoalan.
Ketua DPD GMNI Jawa Timur, Kelvin Arisudin, menegaskan bahwa GMNI Jombang yang telah berusia lebih dari 25 tahun harus mampu menunjukkan dampak nyata bagi masyarakat, bukan hanya bergerak dalam lingkup internal organisasi. Ia juga menekankan independensi GMNI dan mengingatkan kader agar tidak terjebak pada anggapan bahwa organisasi tersebut merupakan underbow pihak tertentu. Menurutnya, GMNI harus berdiri di atas prinsip perjuangan dan kekuatan organisasinya sendiri.
Kelvin turut mengajak peserta menjadikan Konfercab sebagai ruang adu argumentasi yang sehat dengan mengedepankan data dan fakta, bukan emosi. Berkaca pada dinamika Konferda sebelumnya, ia mengingatkan agar persoalan serupa tidak terulang dalam forum cabang. Ia menegaskan pentingnya karakter kader GMNI sebagai “Pejuang Pemikir, Pemikir Pejuang”, yakni sosok yang mampu memadukan ketajaman berpikir dengan tindakan nyata. Ia menutup sambutannya dengan pesan, “Jika ingin bersinar seperti matahari, beranilah terbakar seperti matahari,” sebelum secara resmi membuka Konfercab XIII dengan seruan, “Merdeka! Jaya GMNI! Marhaen Menang!”
Melalui Konfercab XIII ini, GMNI Jombang diharapkan menghasilkan kepemimpinan yang amanah, program kerja yang terarah, serta gagasan progresif yang dapat diwujudkan dalam gerakan nyata. Para kader juga diharapkan menjaga persatuan, menghormati hasil konferensi, dan mendukung kepemimpinan terpilih demi kepentingan bersama. Dengan menjadikan gotong royong sebagai jiwa gerakan, GMNI Jombang diharapkan semakin kuat dalam menjalankan peran mahasiswa sebagai kekuatan kritis yang mengabdi kepada rakyat, bangsa, dan negara.(Zafin)
