Banyuwangi,Kompasgrups.Com – Laga panas babak 8 besar Piala Ketua PSSI Kabupaten Banyuwangi 2026 antara PMJ FC Krikilan melawan Persegam Gambiran di Stadion Maron Genteng, Rabu (20/5/2026), berubah menjadi sorotan tajam publik. Pertandingan yang
seharusnya menjadi ajang sportivitas justru berakhir dengan chaos, kontroversi, dan dugaan kegagalan total panitia dalam menjaga keamanan pertandingan.
Pertandingan berlangsung sengit sejak menit awal hingga berakhir imbang 0-0 sampai peluit panjang dibunyikan. Namun suasana memanas ketika pertandingan harus ditentukan lewat drama adu penalti.
Di tengah momen krusial tersebut, situasi stadion disebut mulai tidak terkendali. Diduga akibat lemahnya pengamanan, sejumlah suporter Persegam Gambiran disebut berhasil membobol pagar stadion dan masuk mendekati area lapangan. Massa suporter kemudian memenuhi sekitar area tendangan penalti.
Kondisi itu membuat para pemain PMJ FC merasa berada dalam tekanan dan ancaman keselamatan. Situasi yang seharusnya steril untuk pelaksanaan adu penalti justru berubah menjadi arena penuh intimidasi.
Merasa keamanan tidak lagi terjamin, para pemain PMJ FC akhirnya memilih meninggalkan lapangan. Namun keputusan itu justru berbuntut panjang setelah panitia pelaksana meloloskan Persegam Gambiran ke babak semifinal.
Manajemen PMJ FC pun melontarkan protes keras. Mereka menilai panitia gagal menjalankan fungsi pengamanan dan tidak tegas mengambil keputusan saat situasi chaos terjadi.
“Panitia tidak bisa menjamin keamanan pemain dan tidak tegas mengambil sikap. Kalau pertandingan diulang, panitia harus bertanggung jawab penuh karena kekacauan ini terjadi akibat kelalaian mereka,” tegas pihak manajemen PMJ FC.
PMJ FC juga meminta adanya penegakan aturan yang adil terhadap suporter maupun klub yang dianggap melakukan tindakan arogan. Mereka menyinggung bahwa sebelumnya Persegam Gambiran disebut telah menerima surat peringatan dari panitia terkait arogansi suporternya saat laga melawan Kaisar Karangsari. Namun, peringatan tersebut dinilai tidak memiliki fungsi apa pun.
Insiden chaos yang kembali terjadi justru memunculkan kesan bahwa surat peringatan itu hanya sebatas formalitas administratif tanpa tindakan tegas di lapangan. Akibat lemahnya ketegasan tersebut, situasi yang seharusnya dapat diantisipasi justru kembali terulang.
Dugaan pembobolan pagar stadion hingga masuknya suporter ke area lapangan saat adu penalti menjadi bukti bahwa panitia gagal mengambil langkah preventif meski sebelumnya sudah ada catatan peringatan terhadap perilaku suporter.
“PMJ bukan takut adu penalti. Tapi keselamatan pemain lebih utama. Area penalti sudah dipenuhi dan dikepung suporter Persegam. Dalam situasi seperti itu siapa yang bisa menjamin keamanan pemain?” lanjut manajemen.
Ironisnya, hingga berita ini diturunkan belum ada klarifikasi resmi dari pihak panitia pelaksana Piala Ketua PSSI Kabupaten Banyuwangi terkait insiden chaos tersebut maupun dasar keputusan meloloskan Persegam Gambiran ke babak semifinal.
Minimnya penjelasan dari panitia justru memunculkan tanda tanya besar di tengah publik pecinta sepak bola Banyuwangi. Banyak pihak mulai mempertanyakan profesionalitas penyelenggara, kualitas pengamanan pertandingan, hingga transparansi pengambilan keputusan dalam turnamen yang membawa nama besar PSSI Kabupaten Banyuwangi tersebut.(tim)

