(Foto istimewa. Suasana Foto Bersama Antara masyarakat dan pihak FISIP UNEJ )
BONDOWOSO, KOMPASGRUPS.COM — Cerita kejayaan pernah menyapa Desa Glingseran, Kecamatan Wringin, Kabupaten Bondowoso. Desa Wisata Dewi Rengganis dulunya menjadi destinasi unggulan yang tak hanya dikenal warga sekitar, bahkan sempat menyabet penghargaan internasional dari KOMPAK Australia pada tahun 2018 berkat tata kelola wisata dan sistem informasi desa berbasis masyarakat yang patut dicontoh. Sabtu (29/8/2026).
Namun pasca pandemi 2020, kejayaan itu perlahan memudar — dan kini, tangan dingin akademisi turun tangan untuk membangkitkannya kembali.
Langkah nyata itu diambil oleh Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember (FISIP UNEJ) yang menggelar kegiatan sosialisasi dan reorganisasi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di Kantor Kepala Desa Glingseran, Senin (24/8/2026). Kegiatan ini dihadiri langsung oleh perangkat desa, masyarakat, serta pengurus Pokdarwis Desa Wisata Dewi Rengganis.
Sebelum pandemi, Desa Wisata Dewi Rengganis menjadi salah satu magnet wisata di Bondowoso yang ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah. Namun sejak hantaman pandemi COVID-19 pada 2020, roda kepariwisataan desa ini berhenti berputar. Pulih pun tak kunjung tercapai.
Ada dua persoalan besar yang mengikat: keterbatasan sumber daya manusia yang kompeten untuk mengelola objek wisata, dan kondisi akses jalan menuju lokasi yang mulai rusak. Di atas segalanya, masalah paling mendasar justru diakui langsung dari dalam — melemahnya partisipasi warga.
“Untuk saat ini, kendala utama untuk reorganisasi Pokdarwis itu terletak di orangnya yang tidak ada,” tegas Ketua Pokdarwis Desa Wisata Dewi Rengganis saat sesi diskusi berlangsung.
Tak membiarkan potensi besar itu terpendam begitu saja, tim akademisi FISIP UNEJ hadir membawa pendampingan konkret. Melalui sosialisasi, pemetaan akar masalah, hingga restrukturisasi kepengurusan, mereka memfasilitasi ruang dialog terbuka antara Pokdarwis, masyarakat, dan pemerintah desa.
Tujuannya jelas: membangun kembali struktur organisasi yang kokoh, memetakan ulang potensi SDM yang ada, serta menumbuhkan kembali kesadaran kolektif warga bahwa wisata Dewi Rengganis adalah milik bersama yang harus dijaga dan dikelola.
Meski sempat terpuruk, tim pengabdian menegaskan potensi Glingseran belum mati. Kekayaan alam, budaya, dan jejak sejarah yang tersimpan di Desa Wisata Dewi Rengganis dinilai masih sangat besar dan layak kembali bersaing sebagai desa wisata unggulan di Bondowoso.
Langkah reorganisasi ini bukan sekadar menyusun ulang kepengurusan. Lebih dari itu, ini adalah upaya menyatukan kembali semangat warga agar percaya bahwa kejayaan masa lalu bisa diulang. Dengan struktur organisasi yang lebih rapi, pembagian peran yang jelas, dan pendampingan berkelanjutan, Desa Wisata Dewi Rengganis diharapkan perlahan pulih — membenahi fasilitas, memperbaiki akses, dan kembali menyambut wisatawan dengan keramahan khas warga Glingseran.
Dari penghargaan internasional hingga sempat vakum bertahun-tahun, kini Desa Wisata Dewi Rengganis mulai melangkah lagi. Tentu jalan masih panjang, namun langkah pertama telah diambil — dan harapan untuk kembali bersinar, kini mulai tumbuh kembali di tanah Glingseran.
Sumber berita : Tim pengabdian FISIP UNEJ
