-->

Food

Sarasehan Budaya “Mencari Jati Diri Banyuwangi”, IWB Soroti Kerusakan Gunung di Dekat Wisata Pulau Merah

Sabtu, Agustus 29, 2026, 4:55:00 PM WIB Last Updated 2026-08-29T09:55:41Z


BANYUWANGI , KOMPASGRUPS.COM– Persoalan lingkungan kembali mengemuka dalam Sarasehan Budaya bertema “Mencari Jati Diri Banyuwangi” yang digelar Komunitas Pemerhati Banyuwangi (KPB) di Palinggihan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, Jalan A. Yani No. 78, Banyuwangi, Sabtu (29/8/2026).


Sarasehan tersebut menjadi ruang refleksi bersama untuk menggali kembali sejarah, budaya, nilai-nilai luhur, serta kearifan lokal sebagai fondasi pembangunan Banyuwangi yang bermartabat dan berkelanjutan.


Banyuwangi dinilai tidak cukup hanya dipandang dari sisi alam dan sektor pariwisata. Lebih dari itu, identitas daerah juga melekat pada sejarah, budaya, lingkungan, serta hubungan masyarakat dengan alam yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.


Sejumlah tokoh hadir sebagai narasumber, yakni KRT. H. Ilham Triadi Nagoro, M.Pd selaku budayawan, Amir Ma’ruf Khan sebagai pengamat sosial, Budi Kartiyoko selaku filosof muda, serta Alex Budi Setiyawan sebagai pegiat literasi.


Dalam forum yang berlangsung terbuka tersebut, peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pandangan dan pertanyaan. Salah satu sorotan datang dari Ketua Info Warga Banyuwangi (IWB), Abi Arbain, yang mempertanyakan sejauh mana peran budayawan dalam merespons persoalan lingkungan, khususnya kawasan Gunung Tumpang Pitu.


Abi mempertanyakan langkah yang telah maupun akan dilakukan para budayawan Banyuwangi menyikapi kondisi hutan di kawasan tersebut yang menurutnya diduga terdampak aktivitas pertambangan PT Bumi Suksesindo (BSI).


«“Apa yang sudah dilakukan dan apa yang akan dilakukan oleh para budayawan Banyuwangi dalam menyikapi kerusakan hutan di kawasan Gunung Tumpang Pitu yang diduga terdampak aktivitas PT BSI? Bagaimana peran budayawan dalam menjaga kelestarian alam yang selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari nilai budaya dan kearifan lokal Banyuwangi?” kata Abi dalam forum tersebut.»


Menurutnya, persoalan lingkungan tidak semestinya dipisahkan dari pembahasan mengenai budaya dan jati diri daerah. Alam Banyuwangi, kata dia, bukan semata-mata objek pariwisata, tetapi juga bagian dari warisan yang memiliki nilai historis dan kultural.


Sorotan Abi kemudian mengarah pada kawasan Pantai Pulau Merah, salah satu destinasi wisata unggulan Banyuwangi yang beberapa waktu lalu kembali menjadi perhatian publik setelah beredarnya unggahan di media sosial dengan latar belakang kawasan perbukitan atau gunung yang tampak gundul.


Ia mempertanyakan langkah konkret yang telah dilakukan pemerintah daerah maupun kalangan budayawan untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat terkait kondisi tersebut.


«“Beberapa waktu lalu sempat viral unggahan salah satu artis di Pantai Pulau Merah, dengan latar belakang terlihat gunung yang gundul. Langkah konkret apa yang sudah dan akan diambil oleh para budayawan bersama Dinas Pariwisata untuk memberikan penjelasan yang benar kepada publik, agar tidak menimbulkan citra negatif terhadap pariwisata Banyuwangi sekaligus menjelaskan fakta yang sebenarnya di lapangan?” ujarnya.»


Pertanyaan tersebut sekaligus membuka diskusi mengenai bagaimana pemerintah dan para pegiat budaya menghadapi persoalan citra destinasi wisata di tengah derasnya arus informasi media sosial.


Menurut Abi, promosi pariwisata tidak seharusnya hanya menampilkan sisi keindahan sebuah destinasi, tetapi juga perlu disertai edukasi dan informasi yang faktual mengenai kondisi lingkungan di sekitarnya.


Tak berhenti di situ, Abi juga menyinggung keberadaan Duta Wisata Jebheng-Tulik Banyuwangi yang setiap tahun dihadirkan sebagai bagian dari promosi pariwisata daerah.


“Dinas Pariwisata setiap tahun mencetak Duta Wisata Jebheng Tulik Banyuwangi. Mengapa para duta wisata ini tidak diberi ruang atau tugas untuk ikut memviralkan keindahan Pantai Pulau Merah sekaligus mengedukasi publik tentang fenomena ‘Bom Boman’ di Gunung Tumpang Pitu yang ada di sebelahnya? Ataukah memang fenomena tersebut akan dijadikan sebagai salah satu destinasi wisata edukasi baru di Banyuwangi?” kata Abi.


Pernyataan tersebut menjadi salah satu bahan diskusi menarik dalam sarasehan. Sebab, di tengah upaya memperkuat branding pariwisata Banyuwangi, muncul pertanyaan tentang bagaimana pemerintah daerah menyatukan promosi wisata dengan edukasi lingkungan serta perlindungan terhadap kawasan alam.


Sarasehan “Mencari Jati Diri Banyuwangi” pun tidak sekadar membahas kesenian, tradisi, atau sejarah. Forum tersebut berkembang menjadi ruang untuk mempertanyakan kembali hubungan antara budaya, pembangunan, pariwisata, dan lingkungan hidup.


KPB berharap diskusi tersebut dapat menjadi titik awal bagi lahirnya gagasan dan langkah konkret dalam menjaga identitas Banyuwangi secara utuh.


Bagi peserta, jati diri Banyuwangi tidak hanya tercermin dari kemajuan ekonomi dan meningkatnya kunjungan wisatawan, tetapi juga dari kemampuan masyarakat dan pemerintah menjaga warisan budaya, sejarah, serta kelestarian alam untuk generasi mendatang.


Dengan demikian, pembangunan Banyuwangi diharapkan tidak hanya menghadirkan daerah yang maju secara ekonomi, tetapi juga tetap kokoh berpijak pada akar budaya, sejarah, dan lingkungan yang menjadi bagian penting dari identitas daerah. (tim)

Komentar

Tampilkan

  • Sarasehan Budaya “Mencari Jati Diri Banyuwangi”, IWB Soroti Kerusakan Gunung di Dekat Wisata Pulau Merah
  • 0

Terkini

Music