-->

Food

KPB Gelar Sarasehan Budaya, Tokoh Banyuwangi Bahas Jati Diri Daerah di Tengah Arus Modernisasi

Sabtu, Agustus 29, 2026, 12:45:00 PM WIB Last Updated 2026-08-29T05:45:09Z

 


BANYUWANGI, KOMPASGRUPS.COM – Di tengah pesatnya pembangunan dan berkembangnya sektor pariwisata, Komunitas Pemerhati Banyuwangi (KPB) menggelar Sarasehan Budaya bertajuk "Mencari Jati Diri Banyuwangi" di Palinggihan Disbudpar Banyuwangi, Sabtu (29/8/2026).


Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WIB tersebut menghadirkan empat narasumber dari berbagai latar belakang pemikiran, yakni budayawan KRT. H. Ilham Triadi Nagoro, MPd, pengamat sosial Amir Ma'ruf Khan, filosof muda Budi Kartiyoko, dan pegiat literasi Alex Budi Setiyawan.


Mengusung tema "Mencari Jati Diri Banyuwangi", sarasehan ini menjadi ruang refleksi bersama untuk menggali kembali nilai-nilai luhur, sejarah, budaya, dan kearifan lokal sebagai landasan membangun Banyuwangi yang bermartabat dan berkelanjutan.


Panitia penyelenggara menyebut, Banyuwangi selama ini dikenal luas karena keindahan alam dan keberhasilan pengembangan sektor pariwisata. Namun di balik itu, terdapat warisan sejarah dan budaya yang menjadi ruh kehidupan masyarakat yang perlu terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.


"Melalui forum ini kami ingin mengajak masyarakat untuk kembali mengenali akar budayanya. Sebab masa depan Banyuwangi tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh seberapa kuat masyarakat memahami identitas daerahnya," ungkap panitia.


Dalam paparannya, pengamat sosial Amir Ma'ruf Khan menegaskan bahwa pembahasan jati diri Banyuwangi harus dimulai dari keberanian memahami sejarah secara utuh dan objektif.


Menurutnya, kemajuan daerah tidak boleh membuat masyarakat tercerabut dari akar budaya yang telah membentuk karakter Banyuwangi selama ratusan tahun.


"Banyuwangi memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang luar biasa. Jangan sampai kita hanya bangga pada pembangunan dan pariwisata, tetapi lupa pada nilai-nilai yang menjadi fondasi daerah ini. Daerah yang besar adalah daerah yang mampu maju tanpa kehilangan jati dirinya," ujar Amir.


Ia menambahkan bahwa budaya bukan hanya soal kesenian, adat istiadat, atau ritual tradisional, melainkan cara berpikir, cara hidup, dan cara masyarakat memandang masa depannya.


"Jati diri Banyuwangi harus dibangun di atas kejujuran sejarah, penghormatan terhadap budaya leluhur, kepedulian terhadap lingkungan, dan keberpihakan pada kepentingan masyarakat. Jika akar budaya kuat, maka Banyuwangi akan tetap kokoh menghadapi berbagai perubahan zaman," tegasnya.


Sementara itu, budayawan KRT. H. Ilham Triadi Nagoro menilai pentingnya upaya mendokumentasikan dan menghidupkan kembali nilai-nilai budaya lokal yang mulai tergerus modernisasi. Hal senada juga disampaikan Budi Kartiyoko dan Alex Budi Setiyawan yang menekankan pentingnya literasi budaya sebagai sarana memperkuat identitas generasi muda Banyuwangi


Sarasehan Budaya "Mencari Jati Diri Banyuwangi" diharapkan menjadi awal dari lahirnya ruang-ruang dialog yang lebih luas dalam merumuskan arah pembangunan daerah yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga kuat secara budaya


Sebab, sebagaimana pesan yang diusung dalam kegiatan tersebut, masa depan Banyuwangi juga dibangun dari pemahaman terhadap akar budaya dan sejarahnya (ATMAJA)

Komentar

Tampilkan

  • KPB Gelar Sarasehan Budaya, Tokoh Banyuwangi Bahas Jati Diri Daerah di Tengah Arus Modernisasi
  • 0

Terkini

Music