BANYUWANGI, KOMPASGRUPS.COM – Di balik perjuangan menuntut hak adat dan pelestarian hutan di Banyuwangi Utara, sosok Amir Ma’ruf Khan atau yang akrab disapa AMK Raja Angkasa ternyata memiliki rekam jejak panjang dalam menjaga kelestarian alam, khususnya ekosistem laut. Ketua Info Warga Banyuwangi (IWB) menegaskan, pengabdian Amir Ma’ruf bukanlah hal baru, melainkan konsistensi yang dijaga sejak puluhan tahun silam sebagai amanah warisan leluhur.
Sejak mendirikan Yayasan Mutiara Bahari pada tahun 2000, Amir Ma’ruf Khan tak henti melakukan aksi nyata konservasi laut. Ia memelopori kegiatan transplantasi dan penanaman terumbu karang serta sup koral di perairan Ketapang, Bangsring, Wongsorejo, hingga Pulau Tabuhan. Bahkan bibit karang pun ia datangkan dari berbagai kepulauan lain untuk memperkaya dan memulihkan ekosistem yang sempat rusak.
Mengubah Pola Eksploitasi Menjadi Budidaya Berkelanjutan
Kegiatan ini berjalan konsisten berganti kepemimpinan daerah: mulai masa Bupati Samsul Hadi, hingga era Bupati Ratna Ani Lestari dan Abdullah Azwar Anas. Kala itu, upaya pelestarian ini mulai diperkenalkan secara luas kepada masyarakat, bahkan dihadiri langsung oleh Bupati Ratna Ani Lestari, Azwar Anas, jajaran DPRD, Lanal, serta para Camat.
Amir Ma’ruf tak bergerak sendirian; ia menggandeng para pengusaha koral dan ikan hias untuk beralih dari pola ambil alam liar menuju budidaya bertanggung jawab. Inovasi pembuatan "Stupa" atau Rumah Ikan di pesisir Wongsorejo pun menjadi bukti kreativitasnya memulihkan habitat laut.
Hasilnya kini terlihat nyata: ratusan kelompok masyarakat ikut melestarikan karang, dan pengusaha yang dulunya memanen langsung dari alam kini beralih membudidayakan terlebih dahulu sebelum hasilnya diekspor ke luar negeri.
Perang Melawan Kejahatan Lingkungan, Warisan Darah Blambangan
Ketua IWB menegaskan, rekam jejak Amir Ma’ruf ini juga didukung dokumentasi foto kegiatan mulai dari petik laut hingga hasil budidaya karang.
"Sejarah mencatat leluhur Blambangan pernah berperang melawan penjajah, dan kini Amir Ma’ruf Khan berperang melawan kejahatan lingkungan dan kejahatan kemanusiaan. Saya yakin, ini adalah darah warisan leluhur Blambangan yang mengalir dalam dirinya," tegas Ketua IWB.
Konsistensi Amir Ma’ruf diakui luas oleh berbagai pihak: mulai aktivis senior M. Yunus yang dijuluki "Harimau Blambangan", Ketua LSM Daerah Hutan Banyuwangi Utara, tokoh masyarakat, pengusaha di Ketapang hingga Kalipuro, serta rekan-rekan wartawan dan elemen sipil di Banyuwangi.
Pengabdiannya merawat situs makam leluhur Syekh Maulana Ishaq dan Tumenggung Aning Patih di kawasan hutan, bersanding harmonis dengan dedikasinya menyelamatkan lautan. Bagi Amir Ma’ruf, menjaga alam darat dan laut Banyuwangi adalah satu kesatuan amanah yang tak terpisahkan dari identitas dan kehormatan warisan para pendahulu. (Red)
