-->

Food

Lereng Gunung Sanggar, Dua Bayi Kembar Berjuang Tanpa Pelukan Ibu: GRIB Jaya Bondowoso Hadir Membawa Harapan

Selasa, Juli 07, 2026, 7:34:00 PM WIB Last Updated 2026-07-07T13:32:09Z


Bondowoso,Kompasgrups.Com – Di balik hijaunya lereng Gunung Sanggar yang membentang di wilayah Kecamatan Tlogosari, tersimpan kisah pilu yang menggugah nurani. Dua bayi kembar, Dea dan Deo, harus menjalani awal kehidupan mereka tanpa kehadiran sang ibu yang telah berpulang hanya beberapa hari setelah melahirkan.

Menyentuh kondisi tersebut, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) GRIB Jaya Bondowoso bersama Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) dan jajaran pengurus turun langsung ke Dusun Kobiung, Desa Pakisan, Selasa (7/7/2026), untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada keluarga yang tengah dilanda musibah tersebut.selselasa(7/7/2026). 

Perjalanan menuju lokasi tidaklah mudah. Dusun Kobiung berada di kawasan pegunungan yang cukup jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Bondowoso. Namun keterbatasan akses tidak menyurutkan langkah para relawan untuk hadir dan memastikan bahwa keluarga tersebut tidak merasa sendiri menghadapi cobaan berat yang sedang mereka alami.

Dea dan Deo adalah anak dari pasangan Jumali dan almarhumah Qinanah. Kebahagiaan atas kelahiran dua buah hati itu berubah menjadi duka mendalam ketika Qinanah meninggal dunia akibat komplikasi pasca persalinan pada 3 Juli lalu. Kepergian sang ibu meninggalkan luka yang mendalam sekaligus tantangan besar bagi keluarga yang kini harus berjuang merawat dua bayi yang masih sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang.

Situasi semakin sulit karena Jumali, ayah kedua bayi tersebut, juga sedang mengalami gangguan kesehatan. Dengan kondisi fisik yang belum sepenuhnya pulih dan keterbatasan ekonomi yang dihadapi keluarga, kebutuhan dasar Dea dan Deo belum dapat terpenuhi secara maksimal.

Saat rombongan GRIB Jaya Bondowoso tiba di kediaman keluarga, kondisi yang terlihat begitu sederhana. Perlengkapan bayi masih sangat terbatas, sementara kebutuhan susu dan perlengkapan harian sebagian besar bergantung pada bantuan warga sekitar serta para relawan yang tergerak oleh rasa kemanusiaan.

Ketua DPC GRIB Jaya Bondowoso, Joni AP, mengatakan bahwa aksi sosial tersebut merupakan bentuk nyata kepedulian organisasi terhadap masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan.

"Kami datang bukan hanya membawa bantuan, tetapi juga membawa pesan bahwa mereka tidak sendiri. Ketika ada saudara kita yang sedang mengalami kesulitan, sudah menjadi kewajiban bersama untuk hadir dan memberikan dukungan," ujar Joni AP.

Menurutnya, bantuan yang diberikan masyarakat dan relawan tentu sangat berarti, namun tidak cukup untuk menjawab kebutuhan jangka panjang kedua bayi tersebut. Karena itu, ia berharap pemerintah daerah melalui instansi terkait segera melakukan pendampingan yang berkelanjutan.

"Kami berharap Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, pemerintah desa, kecamatan hingga pemerintah kabupaten dapat memberikan perhatian khusus. Dea dan Deo membutuhkan jaminan kesehatan, kebutuhan gizi yang cukup, serta pendampingan agar hak-hak mereka sebagai anak dapat terpenuhi dengan baik," tegasnya.

Joni menambahkan bahwa kasus yang dialami Dea dan Deo bukan sekadar persoalan bantuan sesaat, melainkan menyangkut masa depan anak-anak yang berhak memperoleh perlindungan dan kehidupan yang layak sebagaimana dijamin dalam peraturan perundang-undangan.

Menurutnya, negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan setiap anak mendapatkan hak atas pengasuhan, kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan sosial tanpa diskriminasi. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai elemen sosial menjadi sangat penting untuk memastikan kedua bayi tersebut dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

"Kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa masih ada saudara-saudara kita yang membutuhkan perhatian. Kepedulian tidak boleh berhenti pada rasa iba, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata," tambahnya.

Aksi sosial yang dilakukan GRIB Jaya Bondowoso tersebut mendapat apresiasi dari warga setempat. Kehadiran para relawan dinilai memberikan semangat baru bagi keluarga yang sedang berduka sekaligus menjadi bukti bahwa nilai-nilai gotong royong dan solidaritas sosial masih hidup di tengah masyarakat.

Di tengah keterbatasan yang mereka hadapi, Dea dan Deo kini menjadi simbol harapan. Harapan bahwa kepedulian masyarakat dapat menjadi jembatan hadirnya perhatian pemerintah. Harapan bahwa masa depan mereka tidak akan ditentukan oleh keadaan hari ini. Dan harapan bahwa di balik duka yang menyelimuti keluarga kecil itu, masih ada banyak tangan yang siap membantu dan menguatkan.

Karena pada akhirnya, kemanusiaan tidak diukur dari seberapa besar bantuan yang diberikan, melainkan dari kesediaan untuk hadir ketika sesama sedang membutuhkan.(David). 
Komentar

Tampilkan

  • Lereng Gunung Sanggar, Dua Bayi Kembar Berjuang Tanpa Pelukan Ibu: GRIB Jaya Bondowoso Hadir Membawa Harapan
  • 0

Terkini

Music