-->

Food

Gus Kikin, Ketua Umum PBNU 2026–2031: Dari Pelayaran Keliling Dunia hingga Memimpin Pesantren Tebuireng

Senin, Agustus 31, 2026, 7:04:00 PM WIB Last Updated 2026-08-31T12:04:18Z

JOMBANG,KOMPASGRUPS.COM—KH Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin resmi ditetapkan sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031, Senin (31/8/2026).

Penetapan tersebut menempatkan sosok Gus Kikin sebagai salah satu figur penting dalam perjalanan organisasi Nahdlatul Ulama lima tahun ke depan. Di balik amanah tersebut, Gus Kikin dikenal sebagai ulama yang memiliki latar belakang keluarga pesantren dengan garis keturunan yang kuat dari sejumlah ulama besar.


Gus Kikin saat ini merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Dalam posisi tersebut, ia meneruskan perjuangan almarhum KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah yang sebelumnya memimpin pesantren yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan Nahdlatul Ulama tersebut.


Gus Kikin merupakan putra almarhum KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj. Abidah Ma'shum. Dari garis keturunan ibunya, nasab Gus Kikin tersambung kepada Hadratussyaikh KH M. Hasyim Asy'ari melalui sang nenek, Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim.


Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim merupakan putri sulung KH M. Hasyim Asy'ari. Ia menikah dengan KH Ma'shum Ali, seorang ahli falak terkemuka asal Gresik. Dari jalur tersebut, Gus Kikin memiliki hubungan keluarga langsung dengan pendiri Nahdlatul Ulama itu.


Sementara dari garis ayah, Gus Kikin memiliki hubungan nasab dengan KH Anwar bin Alwi, pendiri Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyi'in Paculgowang, Jombang. Garis keluarga tersebut juga membuat Gus Kikin memiliki hubungan sebagai adik sepupu dengan pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Lirboyo, KH Anwar Manshur.


Perjalanan hidup Gus Kikin tidak hanya berlangsung di lingkungan pesantren. Ia justru memiliki pengalaman pendidikan dan profesional yang cukup berbeda dibandingkan kebanyakan tokoh pesantren.

Gus Kikin lahir di Pondok Pesantren Sunan Ampel, Kota Jombang, Jawa Timur. Ia merupakan putra kedelapan dari 11 bersaudara. Pendidikan dasarnya ditempuh di MI Parimono Jombang pada 1963 hingga 1970, sembari mengikuti pendidikan keagamaan di Pesantren Seblak.


Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, Gus Kikin melanjutkan pendidikan di SMP 1 Jombang pada 1971–1973 dan kemudian SMA Jombang pada 1974–1977. Namun, perjalanan pendidikannya kemudian mengambil jalur yang cukup unik.

Ia memilih melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta pada 1975–1979. Pendidikan tersebut menjadi bekal bagi Gus Kikin untuk memiliki keahlian di bidang pelayaran dan mengemudikan kapal.


Pengalaman sebagai pelaut bahkan membawanya menjalani praktik pelayaran hingga mengelilingi dunia sebanyak empat kali. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup Gus Kikin sebelum akhirnya kembali memperkuat kiprahnya di dunia pesantren.

Karier profesionalnya kemudian berlanjut di perusahaan pelayaran milik negara, Djakarta Lloyd. Di perusahaan tersebut, Gus Kikin menunjukkan perjalanan karier yang cukup baik hingga pada usia 30 tahun dipercaya menjadi Kepala Cabang Djakarta Lloyd di Cilegon.


Setelah lebih dari satu dekade berkarier di BUMN pelayaran tersebut, Gus Kikin memutuskan mengundurkan diri pada 1992. Ia kemudian mengembangkan usaha sendiri di bidang shipping dan logistik.

Semangat untuk terus belajar juga tetap dijalankannya. Pada 2013, Gus Kikin kembali menempuh pendidikan dengan mengambil jurusan Komunikasi di Universitas Terbuka. Pendidikan tersebut dilakukan untuk mendukung langkahnya dalam merintis usaha media televisi.


Kiprah Gus Kikin di Pesantren Tebuireng mulai memasuki babak penting ketika almarhum Gus Sholah memintanya pada Januari 2016 untuk menjadi Wakil Pengasuh.

Permintaan tersebut tidak hanya berkaitan dengan tugas kepesantrenan saat itu, tetapi juga bagian dari persiapan menghadapi proses suksesi kepemimpinan Pesantren Tebuireng.


Setelah melalui musyawarah keluarga besar Bani Hasyim, Gus Kikin kemudian disepakati untuk menjadi Pengasuh Pesantren Tebuireng. Amanah tersebut membuatnya melanjutkan estafet perjuangan para ulama yang telah membangun dan menjaga tradisi pesantren tersebut.


Dalam menjalankan amanahnya sebagai pengasuh, Gus Kikin berkomitmen untuk menjaga sekaligus menggali kembali warisan pemikiran Hadratussyaikh KH M. Hasyim Asy'ari.Salah satu perhatian Gus Kikin adalah memahami dan mengamalkan karya-karya monumental KH M. Hasyim Asy'ari, termasuk kitab Qanun Asasi yang menjadi salah satu landasan penting dalam memahami prinsip dan nilai perjuangan Nahdlatul Ulama.


Kini, setelah ditetapkan sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026–2031, perjalanan panjang Gus Kikin memasuki tanggung jawab baru di tingkat nasional. Latar belakang pesantren, pengalaman profesional di dunia pelayaran dan usaha, serta pengalamannya memimpin Tebuireng menjadi bagian dari perjalanan yang mengantarkannya ke pucuk kepemimpinan organisasi Islam terbesar tersebut.(Zafin)

Komentar

Tampilkan

  • Gus Kikin, Ketua Umum PBNU 2026–2031: Dari Pelayaran Keliling Dunia hingga Memimpin Pesantren Tebuireng
  • 0

Terkini

Music