(Foto istimewa, Gambar saat Jurnalis Kompasgrups.com Berada di Sebelah Lingga di Selogiri Banyuwangi)
BANYUWANGI, KOMPASGRUPS.COM – Nama Selogiri mungkin bagi sebagian besar warga Banyuwangi dan sekitarnya hanyalah nama sebuah dusun atau kawasan yang letaknya di utara kota. Namun, jauh lebih dalam dari sekadar penamaan wilayah, Selogiri menyimpan catatan sejarah yang menjadi akar sekaligus awal mula terbentuknya nama Banyuwangi, yang berakar sejak masa kejayaan Kerajaan Blambangan pada Abad ke-15 Masehi (sekitar tahun 1400–1500 M).
📜 Asal-Usul Nama dan Pemberian Wilayah
Pada masa itu, Kerajaan Blambangan dipimpin oleh Prabu Minak Sembuyu. Konon, datanglah seorang tokoh ulama besar bernama Syekh Maulana Ishaq ke istana kerajaan untuk menyembuhkan putri raja, Dewi Sekardadu. Atas keberhasilan menyembuhkan sang putri, Syekh Maulana Ishaq kemudian dipersuntingkan dengan Dewi Sekardadu dan diangkat menjadi menantu raja.
Sebagai tanda penghormatan sekaligus pemberian hak penguasaan wilayah, Prabu Minak Sembuyu menganugerahkan kawasan yang kaya akan bebatuan dan perbukitan kepada Syekh Maulana Ishaq. Wilayah itu diberi nama Selogiri.
Secara harfiah, "Selo" berarti batu, dan "Giri" berarti pegunungan atau gunung-gunung. Jadi, Selogiri bukan sekadar nama tempat, melainkan sebutan untuk kawasan bebatuan dan perbukitan yang menjadi anugerah langsung dari Raja Blambangan kepada menantunya.
⛰️ Luas Wilayah Selogiri Kerajaan Blambangan
(Foto istimewa, Gambar Pegunungan Situbondo, Bondowoso, Jember, Banyuwangi, Lumajang)
Yang jarang diketahui banyak orang, Selogiri pada masa Kerajaan Blambangan bukanlah sekadar kawasan kecil seperti yang dikenal saat ini. Luas wilayah pemberian tersebut mencakup hamparan tanah yang kini meliputi lima kabupaten sekaligus: Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo, hingga Banyuwangi. Selogiri adalah nama wilayah yang menyatukan hamparan tanah luas di ujung timur Pulau Jawa sebelum akhirnya dikenal dengan nama Banyuwangi.
🕌 Bukti Sejarah di Tanah Selogiri
(Foto Istimewa, Gambar Jurnalis Kompasgrups.com saat di Makam Tumenggung Aning Pati/Syekh Maulana Ahmad di Selogiri Banyuwangi)
Kini, ratusan tahun berlalu, jejak sejarah pemberian wilayah itu masih dapat disaksikan secara nyata di kawasan Selogiri. Di sana berdiri kompleks makam petilasan keturunan langsung Syekh Maulana Ishaq: Makam Syekh Maulana Ahmad (Tumenggung Aning Patih) yang berjejer rapi dengan Makam Syekh Maulana Hening.
Di antara kedua makam tersebut masih berdiri kokoh sebuah batu Lingga. Menurut catatan sejarah yang diwariskan turun-temurun, batu Lingga ini sengaja dipertahankan dan dirawat oleh Syekh Maulana Ahmad sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhurnya yang dahulu beragama Hindu. Sebuah sikap toleransi dan penghargaan tinggi yang memadukan nilai-nilai luhur masa lalu dengan ajaran yang baru berkembang.
(Foto Istimewa, Tim Jurnalis Saat di Makam Syekh Maulana Hening di Selogiri Banyuwangi)
Hingga hari ini, batu Lingga peninggalan leluhur tersebut tetap terjaga keberadaannya dan dirawat secara turun-temurun oleh anak cucu keturunannya, sebagai bukti bahwa sejarah Selogiri bukan sekadar cerita lisan, melainkan fakta yang masih hidup dan dijaga.
💧 Dari Selogiri Menjadi Banyuwangi
Selogiri adalah nama yang diberikan Raja Blambangan. Namun seiring berjalannya waktu dan perubahan masa, nama Selogiri perlahan bergeser seiring melegendanya kisah air sungai yang harum, yang kemudian melahirkan nama Banyuwangi. Namun akar sejarahnya tetap satu: Selogiri adalah pemberian Raja Blambangan kepada Syekh Maulana Ishaq, yang menjadi cikal bakal penyebaran Islam sekaligus asal mula nama wilayah yang kini kita kenal sebagai Banyuwangi.
Banyak yang baru mengetahui Selogiri sebatas nama dusun, padahal dalam lembaran sejarah Kerajaan Blambangan, Selogiri adalah saksi bisu bahwa tanah bebatuan dan perbukitan itu pernah menjadi anugerah luas yang membentang dari Lumajang hingga ujung timur Banyuwangi. Jejak yang mengingatkan kita: sebelum dikenal sebagai Banyuwangi, nama besar wilayah ini adalah Selogiri. (Dhofir dan Tim)



