(Foto istimewa, Gambar Pegunungan Banyuwangi, Jember, Situbondo, Bondowoso,dan Lumajang yang termasuk kekuasaan kerajaan Blambangan atau Selogiri)
BANYUWANGI, KOMPASGRUPS.COM — Ketika kita menyebut nama Banyuwangi, Jember, Bondowoso, Situbondo, atau Lumajang, kita menyebutnya sebagai wilayah-wilayah yang berdiri sendiri dengan batas administrasi masing-masing. Namun tahukah Anda? Di masa kejayaan Kerajaan Blambangan, jauh sebelum nama-nama itu muncul dan wilayah ini terbagi-bagi, seluruh hamparan tanah luas di ujung timur Pulau Jawa itu menyatu dalam satu nama yang agung dan penuh makna bersejarah: SELOGIRI. Rabu (5/8/2026).
Nama yang kini nyaris terlupakan, yang hanya tersisa sebagai sebutan sebuah dusun kecil di kawasan utara Banyuwangi, ternyata menyimpan lembaran sejarah yang begitu luas, mendalam, dan mengakar kuat. Inilah kisah Selogiri — bebatuan dan perbukitan yang menjadi anugerah langsung dari seorang raja, tempat menyatunya darah kerajaan dengan kedatangan cahaya Islam, serta saksi bisu toleransi yang dijaga turun-temurun hingga hari ini.
📜 Babak Pertama: Prabu Minak Sembuyu dan Datangnya Syekh Maulana Ishaq pada Abad ke-15
Cerita ini berlangsung pada Abad ke-15 Masehi, sekitar tahun 1400–1500 M, di masa kejayaan Kerajaan Blambangan yang berdaulat menguasai ujung timur Pulau Jawa. Sang penguasa kala itu adalah Prabu Minak Sembuyu, raja yang dihormati dan memimpin dengan bijaksana. Di bawah pemerintahan beliau, kerajaan tumbuh makmur, tanahnya subur, dan rakyat hidup dalam kedamaian.
Namun, pada suatu masa, putri kesayangan sang raja, Dewi Sekardadu, jatuh sakit parah. Segala tabib dan pengobatan telah diupayakan, namun sang putri tak kunjung sembuh. Hati raja pun gundah gulana. Hingga datanglah seorang tokoh ulama besar, bijaksana, dan berilmu tinggi bernama Syekh Maulana Ishaq. Beliau datang membawa kedamaian dan kesembuhan. Atas izin Tuhan Yang Maha Esa, berkat doa dan pengobatan yang beliau berikan, Dewi Sekardadu pun pulih kembali dan segar bugar seperti sedia kala.
Kegembiraan menyelimuti istana. Sebagai wujud rasa syukur sekaligus penghormatan yang setinggi-tingginya, Prabu Minak Sembuyu kemudian menikahkan Dewi Sekardadu dengan Syekh Maulana Ishaq. Beliau pun resmi menjadi menantu Raja Blambangan, sebuah kedudukan yang penuh kehormatan sekaligus tanggung jawab besar.
⛰️ Babak Kedua: Anugerah Selogiri — "Batu dan Pegunungan" yang Diberikan Raja
Bukan sekadar gelar dan kehormatan yang diberikan Prabu Minak Sembuyu kepada menantunya. Sang Raja pun menganugerahkan sebuah wilayah yang sangat luas, subur, berbukit-bukit, dan kaya akan bebatuan alam dan pepohonan serta tumbuh-tumbuhan lainnya kepada Syekh Maulana Ishaq untuk dikuasai, diurus, dan diwariskan secara turun-temurun.
Wilayah itu diberi nama SELOGIRI.
Nama itu bukanlah nama yang diambil begitu saja. Ia memiliki makna yang begitu dalam dan menggambarkan karakter tanah tersebut secara nyata:
- SELO berarti Batu — melambangkan keteguhan, keabadian, dan fondasi yang kokoh
- GIRI berarti Pegunungan atau gunung-gunung — melambangkan kemuliaan, ketinggian, dan kemegahan
Jadi, Selogiri adalah "Tanah Bebatuan dan Perbukitan yang Kokoh dan Mulia". Sebuah nama yang menggambarkan keadaan fisik sekaligus martabat wilayah tersebut.
🌍 Babak Ketiga: Luas Wilayah Selogiri — Mencakup Lima Kabupaten Sekaligus
Inilah fakta yang paling jarang diketahui dan nyaris hilang dari catatan sejarah: Selogiri yang dianugerahkan Prabu Minak Sembuyu kepada Syekh Maulana Ishaq bukanlah sebidang tanah kecil atau sekadar satu kampung. Wilayah itu membentang sangat luas, mencakup hamparan tanah yang kini terbagi menjadi lima kabupaten sekaligus:
✅ Pegunungan Lumajang
✅ Pegunungan Jember
✅ Pegunungan Bondowoso
✅ Pegunungan Situbondo
✅ Pegunungan Banyuwangi
Bayangkanlah! Seluruh wilayah ujung timur Pulau Jawa, dari perbatasan Lumajang hingga pesisir paling timur Banyuwangi, dari selatan hingga utara, pada masa itu menyatu dalam satu nama: Selogiri. Tanah yang diberikan seorang Raja kepada menantunya — bukan sepetak, bukan sehektar, melainkan sebuah wilayah yang nyaris seluas sebuah keresidenan. Sebuah anugerah yang luar biasa besar dan penuh makna.
Namun seiring berjalannya waktu, perubahan masa, dan pergantian kekuasaan, nama Selogiri perlahan tersisih. Wilayah yang luas itu pun terbagi-bagi. Nama-nama baru muncul, dan akhirnya wilayah ini lebih dikenal dengan nama Banyuwangi — yang lahir dari legenda air sungai yang harum. Namun, siapapun yang ingin mengenal asal-usul tanah ini dengan benar, harus kembali kepada satu nama: Selogiri.
🕌 Babak Keempat: Batu Lingga di Antara Dua Makam — Penghormatan yang Tak Pernah Putus
(Foto Istimewa, Gambar Jurnalis Kompasgrups.com saat di Lokasi Lingga berada)
Ratusan tahun telah berlalu sejak anugerah itu diberikan. Namun jejak sejarah Selogiri tidak hilang begitu saja. Ia masih berdiri, masih dapat disaksikan, dan masih dijaga hingga hari ini.
Di kawasan Selogiri yang kini namanya nyaris terlupakan, berdiri sebuah kompleks makam yang sederhana namun penuh keagungan sejarah. Di sana, berjejer rapi dua makam petilasan keturunan langsung Syekh Maulana Ishaq:
🔹 Makam Syekh Maulana Ahmad — atau yang dikenal sebagai Tumenggung Aning Patih
🔹 Makam Syekh Maulana Hening
Dan di antara kedua makam itu, berdiri kokoh sepotong Batu Lingga.
Menurut sejarah yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi, batu Lingga ini sengaja dipertahankan, tidak dihancurkan, dan dirawat dengan penuh hormat oleh Syekh Maulana Ahmad. Mengapa? Karena batu Lingga itu merupakan peninggalan para leluhurnya — orang-orang yang dahulu beragama Hindu. Syekh Maulana Ahmad memeluk Islam dengan sepenuh hati, namun beliau tidak pernah melupakan dan tidak pernah menghina akar sejarah serta leluhurnya. Beliau mempertahankan Lingga itu sebagai bentuk penghormatan yang tulus kepada para leluhur, sekaligus membuktikan bahwa iman dan kasih sayang kepada asal-usul bukanlah hal yang bertentangan.
Itulah toleransi sejati yang diajarkan leluhur kita: menerima yang baru dengan sepenuh hati, tanpa melupakan yang lama dengan penuh penghormatan. Sebuah sikap mulia yang patut kita teladani hingga hari ini.
Dan yang menakjubkan: batu Lingga itu masih ada hingga hari ini. Tidak runtuh, tidak hilang, dan tetap dirawat secara turun-temurun oleh anak cucu keturunannya. Sebuah bukti hidup bahwa sejarah Selogiri bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan kenyataan yang berdiri kokoh seperti batu itu sendiri.
💧 Babak Kelima: Sebelum Bernama Banyuwangi, Namanya Adalah Selogiri
Banyak orang berpikir bahwa Selogiri hanyalah nama sebuah dusun kecil di utara Banyuwangi. Padahal kenyataannya jauh lebih agung dan luas dari itu. Selogiri adalah nama asli pegunungan yang kini terbagi menjadi lima kabupaten. Selogiri adalah anugerah Prabu Minak Sembuyu kepada Syekh Maulana Ishaq. Selogiri adalah tempat di mana dua peradaban menyatu: keagamaan Islam dan kearifan leluhur yang saling menghormati.
Kini, nama Selogiri nyaris hilang ditelan zaman. Namun batu Lingga yang berdiri di antara dua makam itu tetap bersaksi. Makam-makam leluhur itu tetap bersaksi. Dan silsilah keturunan yang terjaga hingga hari ini — hingga kepada tokoh Amir Ma’ruf Khan dan keturunannya — tetap bersaksi:
Sebelum wilayah ini dikenal dengan nama Banyuwangi, sebelum terbagi menjadi "Pegunugan" Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi — nama agung yang mewadahi semuanya adalah SELogiri.
Selogiri bukan sekadar batu dan gunung. Selogiri adalah sejarah kita. Selogiri adalah akar kita. Selogiri adalah nama yang pantas diketahui, diingat, dan dijaga oleh setiap anak Banyuwangi dan seluruh anak wilayah yang dahulu adalah bagian dari tanah kerajaan Blambangan dan Selogiri. (Dhofir dan Tim)

