-->

Food

Bersih Desa Grajagan, Ruang Edukasi Budaya untuk Memperkuat Identitas dan Kohesi Sosial

Selasa, Juli 14, 2026, 12:48:00 PM WIB Last Updated 2026-07-14T05:48:01Z

BANYUWANGI,KOMPASGRUPS.COM – Tradisi Bersih Desa dan Ruwatan yang digelar Pemerintah Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Senin (13/7/2026), tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga sarana edukasi bagi masyarakat dalam memahami nilai-nilai luhur warisan leluhur yang masih relevan di tengah perkembangan zaman.


Kegiatan yang dipusatkan di Balai Desa Grajagan tersebut menjadi momentum untuk mengenalkan kembali makna gotong royong, toleransi, serta pentingnya menjaga identitas budaya lokal kepada generasi muda. Sebelum prosesi ruwatan dilaksanakan, masyarakat mengikuti rangkaian doa lintas agama dan pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang menghadirkan dalang Ki Hery Prasetyo dan Ki Raksi Trisnandayu.


Secara filosofi, Bersih Desa merupakan tradisi masyarakat Jawa yang mengandung makna ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil kehidupan yang diperoleh masyarakat, sekaligus doa bersama agar desa diberikan keselamatan, ketenteraman, dan kesejahteraan. Sementara ruwatan dimaknai sebagai simbol harapan agar masyarakat dijauhkan dari berbagai kesulitan dan marabahaya.


Dalang sekaligus pemimpin prosesi ruwatan, Ki Hery Prasetyo, menjelaskan bahwa tradisi budaya tidak boleh dipandang hanya sebagai seremonial semata. Menurutnya, terdapat banyak nilai pendidikan karakter yang dapat diwariskan kepada generasi muda melalui kegiatan tersebut.


“Ruwatan mengajarkan manusia untuk selalu bersyukur, menjaga hubungan baik dengan sesama, menghormati tradisi, dan memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Nilai-nilai inilah yang penting dipahami oleh generasi muda agar mereka tidak kehilangan jati diri budaya bangsa,” ujarnya.


Ia menambahkan, wayang kulit yang menjadi bagian dari rangkaian acara juga memiliki fungsi edukatif karena banyak mengandung pesan moral, kepemimpinan, kejujuran, dan tanggung jawab yang masih relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.


Kepala Desa Grajagan, Supriyono, mengatakan bahwa Pemerintah Desa berupaya menjadikan kegiatan Bersih Desa sebagai media pembelajaran sosial dan budaya bagi masyarakat. Melalui keterlibatan seluruh elemen desa, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda hingga anak-anak, nilai kebersamaan dan persatuan dapat terus ditanamkan.


“Tradisi ini mengajarkan pentingnya hidup rukun dalam keberagaman. Sebelum puncak acara, kami melaksanakan doa lintas agama sebagai bentuk penghormatan terhadap perbedaan sekaligus memperkuat persaudaraan antarwarga. Ini menjadi pelajaran berharga bagi generasi muda tentang arti toleransi dan kebersamaan,” kata Supriyono.


Menurutnya, pelestarian budaya lokal menjadi tanggung jawab bersama. Di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang begitu cepat, masyarakat perlu menjaga warisan budaya agar tidak hilang ditelan zaman.


Pelaksanaan Bersih Desa dan Ruwatan di Grajagan menjadi contoh bagaimana tradisi dapat berfungsi sebagai sarana pendidikan masyarakat. Selain memperkuat nilai spiritual, kegiatan tersebut juga mengajarkan pentingnya gotong royong, toleransi, penghormatan terhadap budaya, serta kepedulian sosial yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat.


Melalui kegiatan semacam ini, Pemerintah Desa Grajagan berharap generasi muda tidak hanya mengenal budaya daerahnya, tetapi juga mampu memahami makna dan nilai positif yang terkandung di dalamnya sehingga dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.(Atmaja). 

Komentar

Tampilkan

  • Bersih Desa Grajagan, Ruang Edukasi Budaya untuk Memperkuat Identitas dan Kohesi Sosial
  • 0

Terkini

Music